Tampilkan postingan dengan label Kesaksian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesaksian. Tampilkan semua postingan

27 Januari 2015

Bungkus Kado

Manusia pada umumnya memiliki kecenderungan untuk menjadi betah di dalam comfort zone, demikian pula halnya dengan saya. Saya menyukai stabilitas, kondisi yang tidak berubah-ubah, dan tentunya kepastian yang jelas untuk hari-hari ke depan. Saat ini saya menempati sebuah flat housing sewa yang sama dalam waktu enam tahun terakhir. Bukan flat yang mewah, namun cukup baik dan nyaman untuk saya, memiliki akses yang baik dan mudah untuk menjangkau berbagai tempat di kota saya.

Desember lalu tiba-tiba pemilik flat mengabari bahwa unit yang saya tempati akan dijual, sehingga di bulan Januari saya harus pindah ke unit yang lain. Perubahan yang mendadak ini benar-benar membuat saya tidak nyaman, sebab saya adalah orang yang suka dengan kestabilan, suka dengan comfort zone, dan suka dengan hal-hal yang sudah ter-planning jauh sebelumnya. Untuk move dalam waktu sebulan bukan sesuatu hal yang mudah untuk saya, pertama harus mencari unit baru yang sama besar dengan unit sekarang ini, karena saya tinggal dengan beberapa orang, selain itu juga memindahkan berbagai macam perabotan dan barang-barang pribadi yang luar biasa banyaknya.

Tidak lama kemudian, saya mendapat info bahwa unit dengan spesifikasi yang saya cari sudah ada, oleh karena unit tersebut tidak banyak jumlahnya dan kondisinya masih tersewa orang lain, maka sebelum saya bisa cek kondisinya, unit tersebut harus sudah di-book dahulu dengan membayar sejumlah down payment. Prosedur tersebut saya lakukan dan ketika penyewa sebelumnya sudah berakhir masa sewanya, saya bisa melakukan cek unit. Ternyata kondisinya tidak seperti yang saya bayangkan... mulai dari kondisinya yang kotor, bau, unit pendingin yang rusak, kondisi dinding dan pintu yang rusak bahkan kusam, membuat saya menjadi ragu. Namun di saat itu saya merasa tidak punya pilihan, akhirnya saya ambil juga unit flat tersebut.

Setelah pembayaran sewa dilunasi, perbaikan yang cukup banyak mulai dilakukan. Dalam masa-masa perbaikan unit, seorang teman mengomentari unit tersebut. Ia mengatakan bahwa ada unit yang harganya jauh lebih murah daripada unit yang saya sewa dan posisinya tepat di atas unit sewa saya yang lama!...dan celakanya, beberapa waktu lalu di area lantai yang sama dengan unit baru yang saya sewa, pernah terjadi pembunuhan, bahkan ada desas-desus dari orang sekitar tentang adanya penampakan hantu di depan koridor ex unit terjadinya pembunuhan tersebut!

Sebagai manusia normal, saya kecewa, marah, dan merasa tertipu oleh perantara yang menyewakan unit tersebut kepada saya. Namun di saat saya merasa "down", Tuhan mengingatkan kepada saya bahwa kadang ketika Tuhan mau memberikan "kado" kepada kita, Ia memakai "bungkus kado" yang usang, "bungkus kado" yang jelek dan tidak menarik.

Tiba-tiba saya jadi teringat kisah yang pernah saya baca, yaitu seorang pengemis yang memiliki mangkuk yang sangat berharga karena antik, namun karena mangkuk tersebut kondisinya sudah tertutup debu, kotoran, maka pengemis tersebut memakainya sebagai mangkuk untuk meminta-minta. Namun ironisnya, hingga ia meninggal, ia tidak tahu bahwa mangkuk tersebut sebenarnya sangat berharga dan bahkan jika ia bisa menjualnya, maka ia tidak perlu hidup dengan meminta-minta lagi.

Disini saya diingatkan, bahwa "kado" atau berkat Tuhan, terkadang di"bungkus" dengan masalah atau hal-hal yang buruk. Namun jika kita bisa menerimanya, dan mulai mengupas masalah ("bungkus") tersebut satu demi satu, maka berkat (isi "kado") yang luar biasa akan kita terima. Sampai saat ini saya tidak tahu apa sebenarnya "kado" yang mau Tuhan berikan lewat kejadian unit flat ini, karena "bungkus"nya terlihat jelek.

Namun saya mau mencoba belajar untuk menerimanya, sebab saya tahu Tuhan Yesus baik dan Ia adalah Bapa saya, tentunya Ia tidak akan memberikan sesuatu yang buruk atau bahkan mencelakakan saya. Ia mau saya belajar untuk memilih segala sesuatu dengan pertimbangan yang matang, belajar untuk menerima dan merespons secara positif hal-hal buruk yang menimpa saya, dan tentunya di balik semua itu, saya percaya ada "kado" yang baik sedang mengintip di balik semua masalah yang ada.

Jika kita membaca kitab Kejadian 37-50, kita akan tahu, bahwa sebelum Yusuf menerima "kado" jabatan sebagai Perdana Menteri Mesir, Tuhan mem"bungkus"nya dengan berbagai macam masalah, mulai ia dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, difitnah, dan dipenjara, namun setiap jalur tersebut, setiap "bungkus" jelek tersebut, membawa ia semakin dengan dengan "kado" sesungguhnya yang Tuhan mau karuniakan kepadanya.

Di awal tahun yang baru ini, saya tidak tahu anda diijinkan untuk menghadapi masalah apa, but don't judge a book by it's cover, jangan menilai buku dari sampulnya, jangan menilai "kado" Tuhan dari "bungkus"nya. Percayalah kalau Tuhan sendiri mau merendahkan diriNya dengan menjadi manusia, bahkan dihukum untuk menanggung segala dosa kita, tentunya Ia akan mengaruniakan segala sesuatu yang baik kepada kita.

Ingatlah, Ia adalah Bapa kita, kalau bapa di dunia yang jahat tahu cara melindungi dan mengasihi anaknya, tentunya Bapa kita yang baik akan sanggup melakukan hal-hal yang jauh lebih baik daripada itu. 

Tuhan Yesus memberkati!

7 November 2013

Dalam Pemeliharaan Tuhan

Malam ini, ketika saya browsing-browsing blog lama saya, saya melihat ada 1 post (yang adalah kesaksian hidup saya sendiri) yang terekam dalam blog itu. Bahkan, saya sendiri lupa pernah mengalami hal tersebut dan menuliskannya. Well, when I'm reading on that, I'm still amazed by how GOD takes care of my life this far. Oleh karena itu, saya ingin berbagi berkat yang sama buat anda, semoga bisa menjadi inspirasi. :)


18 Mei 2011

Good is good.. All the time..

Hari Jumat malam lalu, seorang teman saya yang adalah ketua sebuah sel grup (persekutuan doa) sedang chatting dengan saya. Tiba-tiba dia bercerita bahwa salah seorang anggota sel nya mengalami masalah yang cukup berat. Dia tidak bisa membayar uang sekolahnya selama 5 bulan. Sementara mobil ayahnya yang bekerja sebagai sopir antar jemput, sedang rusak 1 minggu itu. Lebih parah lagi, hari Seninnya dia sudah UAS; yang mana kalau dia tidak bisa melunasi uang sekolahnya, dia tidak bisa mengikuti UAS.

Ketika mendengar berita itu, hati saya tergerak oleh belas kasih. Saya selalu prihatin dengan orang-orang yang kesulitan untuk melanjutkan sekolahnya, tapi terbentur biaya. Saya mengerti keadaan mereka karena saya juga pernah mengalami hal yang sama, tapi Tuhan menolong saya dengan cara-cara-Nya yang ajaib.

Terkadang saya berandai-andai, andai saja uang anak-anak orang kaya yang tidak niat untuk sekolah, bisa berpindah ke tangan anak-anak lain yang kurang beruntung secara finansial, tapi memiliki kemauan keras untuk belajar. Daripada uang itu dihambur-hamburkan untuk hal yang sia-sia, bukankah jauh lebih berguna jika digunakan untuk biaya sekolah anak-anak yang kurang mampu.

Tapi yang namanya berandai-andai tetap saja hanyalah andai-andai.. Hehehe.. Sama aja bo'ong kalau kita tidak bertindak dan cuma berbicara saja.

Akhirnya tanpa pikir panjang, saya langsung mengambil keputusan untuk mengosongkan account tabungan saya untuk membantu anak ini. Jumlahnya memang tidak banyak, hanya bisa meng-cover sebagian saja karena sebelumnya uang saya juga sudah saya gunakan untuk membantu anak lain dengan kasus yang sama.

Karena saya tahu bahwa dana yang dibutuhkan belum ter-cover semua, maka saya mengambil inisiatif untuk menggalang dana. Saya menghubungi beberapa teman saya dan puji Tuhan, ternyata mereka juga tergerak untuk membantu anak ini. :D

Disamping itu, saya juga berdoa pada Tuhan untuk mengirimkan bala bantuan bagi anak ini. Kabar terakhir yang saya dengar dari teman saya, si pemimpin sel anak ini, anggota-anggota sel grup nya ikut mengambil bagian dalam membantu anak ini, bahkan ada juga yang mencoba menawarkan pekerjaan agar anak ini dapat memiliki penghasilan sendiri nantinya.

Dari kasus ini, saya melihat bagaimana kasih Tuhan benar-benar nyata. Kejadian ini persis seperti yang diceritakan pada Kitab Kisah Para Rasul tentang bagaimana kehidupan gereja perdana. Mereka saling berbagi kasih, berbagi apa yang mereka punya, dan bersama-sama memuliakan Tuhan. :D

Nah, sampai hari ini, itulah kisah anak itu yang saya dengar. Saya belum sempat menanyakan lagi bagaimana kabar anak itu pada teman saya. Sekarang saya akan bercerita tentang kisah saya. :)

Seperti yang saya tulis di atas, saya mengosongkan isi tabungan saya di bank, yang artinya saldo saya sekarang dalam posisi 0. Uang saya yang tersisa di dompet cash hanya cukup untuk hidup 1 minggu, sementara proyek-proyek yang sedang saya kerjakan semua belum bisa ditarik pembayarannya. Alhasil, saya tidak tahu mau hidup pake uang siapa untuk minggu depan. Hahaha..

Tapi saya tidak terlalu memusingkan itu, karena sudah cukup terbiasa dengan kondisi seperti itu. Saya tahu dan saya percaya kalau Tuhan akan menolong saya.

Benar sekali, pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat. Kemarin saya baru saja menerima sebuah proyek yang kecil dan cukup mudah dikerjakan, yang artinya bisa segera saya selesaikan dan saya tarik pembayarannya. Dan hebatnya Tuhan, nilai proyeknya cukup untuk menghidup saya 2 minggu ke depan, tepat sebelum jadwal pembayaran saya yang lain bisa cair. Haleluyah, Praise the Lord!

Banyak sekali orang, yang kalau saya ceritakan kisah saya ini, selalu berkata, "Kalau kamu gitu terus kapan kayanya?" atau "Kenal aja ndak sama tuh orang, kenapa repot-repot bantu dia? Bukannya lebih baik kamu urus dirimu dulu?" Mendengar komentar-komentar seperti itu, biasanya saya hanya membalas, "Tuhan yang pelihara saya."

Hari demi hari, saya semakin bertumbuh dalam pengenalan akan diri-Nya, dimana pemeliharaan-Nya akan hidup saya menjadi semakin nyata. Yah, sama seperti manusia lain, saya masih punya rasa takut dan kuatir untuk masa depan, tapi ketika saya belajar untuk hidup dalam pemeliharaan Tuhan, saya dimampukan untuk tidak kuatir dan takut sehingga damai sejahtera itu dapat turun dalam hidup saya.

"Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya." (1 Timotius 6:17-19).

Tuhan memberkati!

16 Februari 2013

In Christ Alone

Gelak tawa terdengar di seluruh penjuru ruangan. Tangis haru ikut mewarnai hari ini. Kebahagiaan, kebanggaan, kelegaan dirasakan oleh semua orang. Keluarga dan teman-teman datang untuk merayakan kegembiraan tersebut. Semua, kecuali aku. 

Di hari wisuda, hari yang ditunggu-tunggu, malah menjadi kenangan menyakitkan yang tak terlupakan bagiku. Kegagalan, kekecewaan, perasaan kesendirian menyelimuti hatiku. Di balik semua tawa yang terdengar, aku menangis keras. Aku memilih berada di dalam mobilku, sendiri, melampiaskan segala kekecewaanku dalam tangisan. Dalam hati aku bertanya, “Tuhan, mengapa aku harus mengalami hal ini?”


Terlintas di kepalaku bagaimana dulu teman-temanku merasa iri dengan kepandaianku (Aku termasuk salah satu anak yang pandai di kampus). Dengan begitu ambisiusnya aku sering mengumandangkan keinginanku untuk lulus dalam waktu 3,5 tahun. Namun, nasib berkata lain, aku harus mengambil satu semester lagi. Aku menghibur diriku esndiri “Ah, tidak apa-apa, semester depan aku pasti menyelesaikannya. Aku mampu.” Tanpa kusadari, kesombongan membisikkan kejatuhan padaku.

Semester berikutnya kujalani, tetapi perkembangan tugas akhirku sangat sedikit. Semua orang mengatakan “Judul tugas akhirmu sudah seberat thesis, melebih beban skripsi.” Aku merasa bangga karena aku mendapat kesempatan untuk melakukan lebih dari orang lain. Namun di sisi lain aku merasa takut kalau-kalau aku tidak mampu melakukannya. Sekali lagi kesombongan berbisik, “Kamu pasti bisa! Kamu lebih pintar.”

Kata penguatan “kamu pasti bisa” mengaburkan pandanganku. Fokusku hanyalah pada diriku dan kemampuanku. Aku lupa Tuhanlah yang mengangkat aku selama aku kuliah. Padahal, aku sering memberi kesaksian bahwa di SMA aku bukanlah anak yang berprestasi, hanya anak rata-rata. Aku tidak pernah membawa tugas akhir ini ke dalam doa, hanya mengandalkan kekuatan sendiri. 

Waktu berjalan dan aku meremehkan bobot tugas akhir itu. Bahkan aku sempat membantu teman-teman dalam pengerjaan mereka, lebih banyak daripada aku mengerjakan tugas akhirku sendiri. Kesombonganku membawa pada kejatuhan. Aku harus mengambil semester yang baru lagi hanya karena tempat penelitianku tidak dapat menyediakan waktu untuk aku melaksanakan penelitian. Itu berarti aku harus melewatkan hari wisudaku dan menjalani semester yang baru lagi. 

Di hari kelulusan, aku hanya bisa melihat kelulusan teman-temanku dengan tersenyum kecut. Perasaan gagal terus ada di dalam diriku. Pelukan demi pelukan yang kudapat dari teman-temanku membuat air mata tidak dapat lagi terbendung. Aku merasa sendiri karena teman-teman dekatku sudah lulus, aku bukan orang yang mudah mendapatkan teman. Timbul pertanyaan sekali lagi, “Tuhan, akankah aku sanggup menghadapi semuanya?”

Sekitar 2 bulan lamanya aku menghibur diriku dengan berlibur. Di hari-hari itu juga aku menguatkan diriku, aku menaruh kembali harapanku kepada Tuhan. Aku mulai membawa kembali beban hatiku kepada-Nya. Fokusku berubah dari “aku mampu”, menjadi “Tuhan yang memampukanku”.

Menyelesaikan tugas akhir tersebut tetap bukan perkara yang mudah. Namun, Tuhan, ya, hanya Tuhan yang selalu menganugerahkan kelegaan, kekuatan dan pengharapan baru. Aku memutuskan untuk “rest in Him” sepanjang semester terakhir itu. 


Selangkah demi selangkah aku lalui dan aku berhasil menyelesaikannya. Saat aku keluar dari ruang sidang dan mendengar kata “A”, semua deritaku seakan terbayar. Aku tidak bisa berhenti tersenyum hari itu! Tidak bisa berhenti mengucapkan “Terima kasih Tuhan untuk anugerah-Mu!”

Satu lagu yang muncul di benakku, lagu yang selalu menguatkanku selama pengerjaan tugas akhirku...
In Christ alone, I place my trust
I found my glory in the power of the cross
In every victory, let it be said of me
My source of hope, my source of strength
Is Christ alone 
Hanya dalam Tuhan aku menaruh harapanku. Hanya dalam-Nya aku menemukan kemenangan. Setiap saat kakiku berlutut dalam hadirat-Nya, aku datang hanya untuk berserah. Dan saat itu aku tau, Dia yang menyediakan kemuliaan yang lebih besar dari yang aku dapat bayangkan. Dalam kelemahanku, kemuliaan-Nya semakin dinyatakan! Kasih karunianya cukup bagiku! 

2 Korintus 12:9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

Tuhan Yesus memberkati!

- VC -

18 September 2012

Pertolongan Tuhan Tidak Pernah Terlambat

-18 September 2009-

Saya adalah seorang pengusaha yang baru merintis usaha saya 2 tahun belakangan ini. Mungkin bagi anda yang memiliki profesi yang sama dengan saya, saat-saat sekarang ini merupakan saat-saat yang kritis untuk pembayaran rekanan bisnis kita maupun karyawan kita. Karena pada hari ini, dimana saya  menulis testimoni ini, merupakan hari-hari terakhir menjelang libur hari raya Lebaran yang cukup panjang dan sebagai pengusaha, ada semacam “kewajiban” untuk melakukan pembayaran pekerjaan maupun THR (Tunjangan Hari Raya) kepada karyawan atau rekanannya sebelum libur dimulai..

Oleh karena sebagian besar karyawan saya adalah karyawan dengan sistem kontrak per pekerjaan, maka saya tidak memiliki kewajiban untuk melakukan pembayaran THR seperti yang dilakukan oleh perusahaan dengan karyawan-karyawan tetapnya. Tetapi saya memiliki kewajiban untuk melakukan pembayaran terhadap rekanan bisnis saya yang kewajiban pekerjaannya telah selesai dan karyawannya membutuhkan pembayaran pekerjaan serta THR sebelum memasuki masa liburan hari raya tersebut.

Oleh karena dana yang harus saya tagihkan untuk pembayaran rekanan bisnis tersebut bersumber dari perusahaan dengan skala yang cukup besar, maka sejak 5 minggu yang lalu saya telah memasukkan semua berkas tagihan saya untuk diproses. Janji awal dari mereka, pembayaran tagihan saya akan diberikan berupa giro per tanggal 11 September lalu. Oleh karena itu, satu hingga 2 minggu sebelum tanggal 11 tersebut, saya hanya melakukan pengecekan rutin ke pihak mereka mengenai posisi tagihan tersebut (sudah proses sampai di divisi apa? sudah ditandatangani atau belum? dan sebagainya).

Namun ternyata kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang telah mereka janjikan, janji pembayaran tanggal 11 akhirnya diulur menjadi tanggal 15. Melihat perkembangan yang seperti itu, sebagai manusia biasa, saya pun menjadi cemas dan khawatir bahwa pembayaran tanggal 15 pun akan meleset juga, padahal di satu sisi tanggal 18 adalah hari terakhir perusahaan beroperasi, baik rekanan bisnis saya maupun perusahaan tempat saya menagihkan pembayaran, jadi hanya tersisa 3 hari lagi kesempatan untuk mendapatkan pembayaran tersebut.

 Akhirnya tanggal 15 tiba dan kecemasan saya terbukti beralasan, pembayaran tetap belum bisa dilakukan. Saya memutuskan mulai keesokan harinya, secara aktif saya menunggu di kantor mereka sembari melobi pihak manajemennya agak giro saya segera ditandatangani dan diberikan. Hingga sore tanggal 17, mereka hanya mengkonfirmasi saya bahwa giro saya masih belum terbit. Malam harinya saya hanya bisa pasrah dan berdoa kepada Tuhan, “Jika Tuhan berkenan, maka bukakanlah jalan untuk pencairan pembayaran tersebut, tetapi jika belum, maka berikanlah pertanda”. Tetapi Tuhan hanya meminta saya untuk tetap berusaha dan berdoa. Dengan jawaban tersebut saya bingung juga, sebab saya merasa telah berusaha semaksimal mungkin untuk melobi mereka, sehingga hal satu-satunya yang masih bisa saya usahakan adalah berdoa terus.

Tanggal 18 September pagi saya sudah menunggu di kantor mereka, dengan harapan giro akan diberikan ketika pukul 08.30, karena pada jam itulah kasir pembayaran mereka buka. Saya menunggu hingga pukul 09.00 tetapi loket kasir mereka tetap belum dibuka, bahkan sayup-sayup saya mendengar dari balik bilik kasir tersebut pembicaraan antara petugas kasir dan manajernya, bahwa giro saya masih belum mereka dapatkan hingga pagi ini.

Mendengar hal tersebut saya tetap berusaha berbesar hati dan tetap berdoa juga. Sementara saya tinggalkan loket kasir yang belum buka tersebut untuk ke toilet. Sekembalinya saya dari toilet, saya menuju kembali ke kasir dan berharap bahwa loketnya telah buka dan saya bisa segera menanyakan langsung status tagihan saya. Disinilah ternyata saya membuktikan untuk kesekian kalinya lagi, pertolongan dari Tuhan tidak pernah terlambat!. Setibanya di depat loket, saya mendapati loket tersebut telah buka dan saya dipanggil petugasnya untuk menerima pembayaran giro saya. Saya tidak tahu bagaimana prosesnya hingga giro itu tiba-tiba sudah ada di tangan mereka, tetapi terima kasih Tuhan!….., karena pertolonganMu tidak terlambat.

Tetapi ternyata semuanya tidak selesai sampai disana. Giro yang saya terima ternyata berbeda dengan giro yang saya terima dari mereka biasanya. Bank penerbit giro tersebut adalah bank dimana saya tidak memiliki rekening di sana, sehingga untuk mencairkan giro tersebut (jika beda bank), bisa memakan waktu 2 hingga 3 hari. Tetapi petugas kasir tersebut memberi tahu saya bahwa giro tersebut bisa ditransfer langsung dari bank penerbit ke bank dimana rekening saya berada, dengan sistem RTGS dengan dikenai biaya Rp. 5.000,- sebelum jam 10 pagi, sebab tanggal 18 ini merupakan hari terakhir operasional mereka menjelang libur panjang.

Saya menerima giro tersebut pukul 09.04, sehingga setelah saya mendengar keterangan tersebut, secepatnya saya segera mencari angkutan umum ke bank penerbit giro. Uang yang saya pegang waktu itu hanyalah Rp. 28.000,- dan angkutan umum yang mengantarkan saya ke bank meminta Rp. 15.000,-. Tetapi karena saya membutuhkan waktu yang singkat, maka saya segera memutuskan untuk menuju ke tempat tersebut secepatnya. Sesampainya di bank pukul 09.20, saya segera berlari menuju posisi bank itu dan menanyakan apakah bank tersebut bisa mentransfer giro itu ke rekening bank saya secara langsung dengan RTGS. Ternyata info dari petugas kasir tadi benar dan saya menanyakan sekalian biaya untuk RTGS-nya. Entah kesalahan info dari kasir atau setiap bank memiliki beda peraturan, ternyata biaya RTGS adalah sebesar Rp. 50.000,- untuk non nasabah bank itu. Saya kebingungan, sebab uang yang tersisa di dompet saya hanya Rp. 13.000,-, sementara di ATM saya hanya Rp. 6.000,- saja yang tertinggal.

Saya segera menghubungi saudara saya untuk mentransfer dana sejumlah Rp. 50.000,- secepatnya. Saya menunggu di depan antrian ATM dan ketika antrian tinggal 1 orang di depan saya, saya menyadari bahwa 2 mesin ATM di dalam ruang kaca di depan antrian hanya beroperasi 1 mesin saja. Yang satu lagi; yang bisa mengeluarkan uang dalam pecahan Rp. 50.000,- malah tidak beroperasi, sedangkan yang beroperasi adalah yang memiliki pecahan Rp. 100.000,-. Saya cukup kaget karena mesin yang tidak beroperasi itu juga banyak antrian yang ternyata hanya untuk transaksi non tunai (transaksi tunainya tidak bisa berjalan; jadi bukan berupa mesin khusus non tunai). Kepanikan langsung melanda dan saya segera mengkontak saudara saya untuk menambahkan dana kembali agar saya bisa menariknya dalam pecahan Rp. 100.000,-.

Setelah dana berhasil saya tarik, waktu sudah menunjukkan pukul 09.50. Saya lebih terkejut lagi setelah mendapati bahwa bank sudah menjadi penuh dan nomor antrian yang saya pegang adalah nomor 27, sementara nomor antrian yang sedang dilayani adalah nomor 19 dan kasir yang melayani mereka semua hanya 1 orang kasir saja. Saya pasrah dan hanya menunggu di depan kasir hingga nomor antrian saya dipanggil, kalau memang Tuhan telah mengizinkan giro saya keluar hari tersebut, maka Tuhan akan memberikan jalan untuk pencairannya. Tiba giliran saya dipanggil, saya diinfokan oleh mereka bahwa RTGS masih tetap bisa dilakukan meski jam sudah menunjukkan pukul 10.30. Puji Tuhan!, ternyata pertolonganNya terbukti lagi tepat pada waktunya. Setelah transaksi selesai, mereka menyampaikan bahwa dana akan sampai di rekening sekitar pukul 12.30 hingga 13.30. Mendengar hal tersebut saya cukup lega, terlebih lagi ketika saya menanyakan jam terakhir operasional mereka hari itu adalah pukul 15.00, berarti dana akan sampai di rekening tepat pada waktunya dan bisa ditarik seluruhnya secara tunai untuk diberikan kepada rekanan bisnis saya (rekanan bisnis saya memiliki rekening bank yang berbeda dari rekening saya, sehingga jika ditransfer akan memakai waktu 2 hari kerja, jadi untuk mempercepat, maka mau tidak mau dana harus ditarik seluruhnya secara tunai).

Sesudah semua proses selesai, saya meminta saudara saya untuk menunggu di bank penerima dana untuk menariknya. Saya kira semuanya telah berakhir, tetapi saya dihubungi saudara saya bahwa bank penerima akan tutup pada pukul 13.00, tutup sebelum range penerimaan dana dari pihak bank penerbit giro yang dijanjikan antara pukul 12.30 hingga 13.30.

Saya langsung kembali ke bank penerbit, untuk menanyakan kepastian sampainya dana, tetapi mereka tidak bisa memastikan kapan tepatnya, sehingga saya hanya menunggu di depan teller. Pukul 11.40 saya menanyakan kembali ke mereka dan sekali lagi, tangan Tuhan tidak terlambat lagi bekerja. Dana dikabarkan sudah sampai dan sudah bisa ditarik seluruhnya secara tunai, sehingga pembayaran rekanan bisnis saya bisa langsung dilakukan, puji Tuhan!!.



“Sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai.” (Mazmur 63 : 7) Setelah seluruhnya benar-benar selesai, saya berjalan untuk mencari angkutan umum kembali ke tempat tinggal saya. Di saat tersebut Tuhan berbicara di dalam hati saya untuk membagikan kisah hari ini, agar mereka yang sedang mengalami keputus-asaan, putus pengharapan, dapat dikuatkan melalui kisah ini dan tetap percaya dan berharap kepada Tuhan akan pertolonganNya, sebab pertolongan sejati untuk seluruh hidup kita hanyalah berasal dari satu Pribadi, yaitu Pribadi Tuhan yang kita kenal dalam Yesus Kristus. “Nyanyian ziarah. Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.” (Mazmur 121 : 1 – 2)

Jadi bagi setiap pembaca kesaksian ini, yang masih bergumul dalam permasalahan, tetaplah teguh berharap di dalam Tuhan, sebab pengharapan akan menghasilkan iman, dan iman akan membuat tangan Tuhan bekerja menolong kita dari permasalahan-permasalahan kita. Apa yang terjadi pada saya, dapat terjadi pada anda semua, karena kita semua adalah anak-anak Allah yang sangat dikasihiNya. Dia hanya mau kita percaya, berusaha dan tetap lurus di jalanNya, maka hatiNya tidak akan pernah jauh dari hati kita dan tanganNya tidak pernah kurang panjang untuk menolong kita. Amen!

Tuhan Yesus memberkati!

-PDLA-

4 September 2012

Tuhan Sedang Memanggilmu

Suatu hari, saat itu aku lagi saat teduh di kamarku dan aku mendapatkan ayat ini:

Mat 4:14-16 "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, -- bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang." Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"


Laut biasanya diartikan sebagai umat manusia, dan bangsa-bangsa lain diartikan sebagai orang-orang yang belum mengenal Kristus. Jadi dengan kata lain, YESUS memerintahkan kita untuk ‘keluar’ dan menjadi terang bagi orang-orang yang belum mengenal Kristus. Bukan menjadi terang bagi orang-orang yang sudah mengenal Kristus (alias menjadi terang hanya di dalam Gereja).

Kenapa begitu? Karena yang membutuhkan Terang itu adalah orang-orang yang masih ada dalam kegelapan (orang-orang yang belum mengenal Kristus). Kita, orang-orang dalam Gereja, sudah memiliki Terang itu, jadi tidak perlu diterangi lagi, sebaliknya kitalah yang seharusnya membawa Terang itu pada kegelapan.

Terang berarti harapan bagi orang-orang yang berada dalam gelap. Itulah kenapa perikop ini ditutup dengan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”, karena lewat harapan, orang mengenal kasih Kristus; dan lewat kasih Kristus, orang mengenal Kristus dan bertobat. Coba kita ingat-ingat saat pertama kali kita benar-benar bertobat, yang kita kenal duluan pasti kasih-Nya, bukan Dia – baru lewat kasih-Nya, kita mengenal Dia dan bertobat.

Ayat ini menjadi rhema di hatiku akhir-akhir ini karena beberapa kejadian:
  • Waktu itu aku sedang di Jakarta, waktu aku sedang jalan-jalan, aku melihat banyak pengemis. Bahkan beberapa diantara mereka cacat dan angota tubuhnya nggak lengkap. Mereka tampak sangat tidak terawat dan mengais-ngais kehidupan. Padahal mereka sama manusianya dengan kita, yang seharusnya berhak untuk mendapatkan hidup yang lebih layak.
  • Suatu hari waktu aku pulang kampus naik angkot, aku bertemu seorang bapak-bapak tua yang ternyata buta. Aku menolongnya membelikan obat untuk matanya dan sempat bercakap-cakap dengan dia. Aku lupa penyebab kebutaannya, tapi yang pasti keadaan matanya saat itu sangat mengerikan dan aku belum bisa melupakannya sampai sekarang. Yang buat aku trenyuh, dia ternyata masih bekerja di sebuah toko komputer, dan kesana-kemari dengan naik angkot dengan kondisi yang seperti itu.
  • Beberapa hari lalu waktu aku pulang naik angkot juga, aku bertemu dengan seorang tukang pijat tuna netra. Walaupun dia tidak bisa melihat, tapi dia seakan-akan tidak perduli dengan keadaannya dan tetap bekerja seperti otang normal. Aku masih bisa melihat semangatnya saat dia turun dari angkot. Waktu turun dari angkot itu, dia hampir tertabrak sepeda motor, puji TUHAN sepeda motor itu berhenti tepat pada waktunya.
  • Saat aku pulang dari Gereja, aku melihat anak-anak kecil yang biasa ada di lampu merah yang membawa sulak dan membersihkan kaca-kaca mobil. Biasanya, aku tidak perduli pada pemandangan itu, tapi entah kenapa waktu hari itu, aku tiba-tiba bisa merasakan penderitaan mereka. Mereka yang seharusnya masih dalam usia untuk menikmati yang namanya bermain, mereka yang masih dalam usia sekolah tapi tidak mampu sekolah, harus berpanas-panas ria bekerja karena tekanan ekonomi. Bahkan mungkin beberapa dari mereka ada yang tidak beralas kaki. Bisa dibayangkan bagaimana panasnya aspal di Surabaya pada siang hari.
  • Dan masih banyak cerita-cerita lain yang nggak mungkin aku ceritakan di sini…

Dari sini aku mengingat bagaimana TUHAN sangat mencintai umat manusia, kita dan mereka. Dia telah mati, memberikan darah-Nya untuk manusia. Itu artinya bahwa setiap kita adalah sangat berharga di mata-Nya. Setiap kita dihargai ALLAH setara dengan 1 Yesus! Keselamatan dan berkat yang diberikan penuh, tidak setengah-setengah. Bahkan di Alkitab disebutkan kita adalah biji mata TUHAN, yang artinya kita sangat dijaga dengan hati-hati oleh Dia saking berharganya kita. Sadarkah kita kalau setiap kita sangat berharga di mata-Nya, padahal kita cuma debu yang tidak ada artinya?

Kalau kita yang sudah dihargai sedemikian rupa, mendapatkan berkat yang sedemikian luar biasa, masihkah terlalu sombong untuk membaginya dengan orang lain? Mereka di luar sana juga berhak mendapatkan apa yang kita dapat dari ALLAH, hanya mereka belum tahu caranya. Disinilah tugas kita sebagai mitra kerja ALLAH dalam mengekspresikan kasih-Nya pada mereka.

Lalu bagaimana membawa Terang itu pada dunia? Berikan dan lakukan peran yang diberikan TUHAN pada kita dengan baik. Jika panggilanmu adalah dokter, bantulah orang-orang yang sakit. Jika kamu masih pelajar, belajarlah dengan baik supaya di masa depan kamu bisa memuliakan nama TUHAN dengan cita-citamu. Jika kamu seorang desainer, desainlah sesuatu yang berguna bagi masyarakat, karena dengan begitu kita juga memuliakan nama TUHAN. Lakukan apapun yang terbaik yang kita bisa untuk membantu mereka yang membutuhkan dan sudah kehilangan harapan. Karena hari-jari ke depan akan semakin berat dan dunia ini sudah kehilangan harapannya. Tugas kitalah untuk mengekspresikan Terang itu pada dunia sehingga dunia mendapatkan kembali harapannya.

Suatu hari aku pernah protes ke TUHAN, “TUHAN kenapa aku harus membantu mereka, harus membantu memberikan jalan keluar bagi masalah-masalah mereka, menguatkan mereka, mengajar mereka tentang nilai-nilai hidup, dst? Bahkan aku tidak mengenal beberapa dari mereka. Sebagian bahkan cuma teman di dunia maya yang tidak pernah aku kenal atau temui. Masalah mereka cuma membuat aku tambah pusing karena aku sendiri sudah pusing dengan masalah-masalahku.”

Tapi kemudian dengan lembut TUHAN menjawab, “Anak-Ku, kalau kamu perduli dengan mereka, aku akan perduli dengan segala permasalahanmu. Kalau kamu membantu mereka, aku akan membantumu. Kalau kamu menguatkan mereka, aku akan menguatkanmu di saat kamu lemah. Ingatlah selalu bahwa kamu memiliki Aku, yang berarti kamu memiliki segalanya; sesuatu yang tidak mereka miliki.”

Sejak saat itulah aku belajar untuk perduli pada orang lain…

TUHAN sedang memanggilmu, saudaraku.. Apakah kamu akan meresponinya?

Tuhan Yesus memberkati!

-SKT-

28 Agustus 2012

Bangkit!

Januari 2009

Suatu malam, aku melihat sebuah pintu dan sebuah kunci. Kemudian kunci itu membuka pintu tersebut dan keluarlah badai dari pintu itu.

Kemudian aku bertanya, “Apa artinya ini, TUHAN?.”

TUHAN menjawab, “Pintu itu adalah pintu revival, pintu kebangkitan rohani. Sedangkan kunci itu adalah generasimu. Generasimu adalah kunci yang akan membuka (trigger) kebangkitan rohani ini”



Mei 2009

Dalam konferensi Asia for Jesus, seorang pendeta berkata kurang lebih seperti ini, “Kita, sebagai generasi muda, ini seperti berdiri di ambang pintu yang lebar.”

Seperti yang kita tahu, dalam Alkitab, pintu yang lebar identik dengan pintu menuju kebinasaan (neraka), dan kita sedang berdiri di antaranya.

Mat 7:13 Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya;

Jadi, apa maksudnya? Kenapa kita berdiri di ambang pintu itu?

Inilah tugas kita: berteriak pada semua orang yang sedang berbaris menuju pada pintu kebinasaan itu, “Sebelum kalian benar-benar yakin untuk memutuskan pergi menuju pada kebinasaan, dengarkanlah kesaksian kami tentang Yesus!”

Saat itulah aku teringat lagi pada apa yang pernah aku lihat di bulan Januari sebelumnya. Dan aku menyadari sesuatu:

Sebuah generasi baru sedang dibangkitkan dan dipersiapkan oleh TUHAN. Kedatangan-Nya yang kedua kali sudah sangat dekat, dan Dia membutuhkan tentara-tentara-Nya yang perkasa untuk bangkit dan menyiapkan jalan bagi kedatangan-Nya yang kedua kali. Tentara-tentara yang tidak berperang dengan pedang, tapi dengan doa dan puasa! Tentara-tentara yang tidak membawa perang, kekacauan, dan kebencian tapi damai, sukacita, terang, dan harapan bagi dunia! Tentara-tentara yang bergerak dengan otoritas Surga, dan bukan otoritas duniawi!

Berbahagialah kita sebagai generasi yang dilahirkan di jaman akhir ini. Kita dapat hidup di dalam momen paling bersejarah yang belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia sebelumnya.

Bangkitlah tentara-tentara Allah yang perkasa! Kita akan buat antrian menuju pintu yang sesak (keselamatan) jauh lebih panjang daripada antrian menuju pintu yang lebar (kebinasaan)!

OK, that’s the good news.. now the warning:

Akan ada badai kebangkitan rohani (Revival Storm). Namanya badai, pasti sesuatu yang sangat besar dan kacau. Kita butuh yang namanya pegangan. Satu-satunya pegangan yang dapat kita percaya dan pegang kuat-kuat adalah Yesus. Karena hanya Dialah batu karang yang tidak tergoncangkan. Dialah gunung batu kita, Dialah kota benteng kita, tempat perlindungan kita.

Kesimpulannya, untuk bisa melewati badai ini, kita harus memiliki relationship yang semakin dalam dengan Yesus. Dia akan mengemudikan kapal kita dan membawa kita melalui badai ini dengan selamat.

Tahukah kamu apa yang paling dibenci oleh Iblis? Saat anak-anak TUHAN mulai berjalan dalam visi TUHAN. Iblis akan mengerahkan segala kekuatannya untuk menghancurkan visi yang sudah ditanamkan TUHAN dalam setiap kita. Oleh karena itu berhati-hatilah di masa-masa ini, karena Iblis sedang menuntut untuk menampi kita.

Luk 22:31 Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum,

Luk 22:32 tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu."


Ingatlah selalu akan satu hal, TUHAN selalu beserta kita. Tidak pernah sekalipun tangan-Nya lepas dari kita. Seperti lirik dalam lagu Lebih dari Pemenang, “…jika Allah di pihak kita, siapa dapat melawan. Kita lebih dari pemenang.”

Sekalipun masalah yang sedang engkau hadapi sekarang terlihat berat, ketahuilah bahwa TUHAN-mu lebih besar dari apapun, dan Dia sanggup untuk menyelesaikan semua masalahmu.

Inilah saatnya generasi kita bangkit! Bangunlah hai tentara-tentara TUHAN yang sedang tertidur! Dunia sudah terlalu lama menunggu datangnya harapan. Inilah panggilan kita, sebagai generasi pembawa harapan, generasi jawaban bagi dunia yang sudah kehilangan harapan!

Tuhan Yesus memberkati!

-SKT-
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...