Yohanes 14 : 12
"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa."
Kita sebagai orang yang percaya kepada Yesus, sesuai dengan janji Firman di atas, bahwa kita pun akan melakukan pekerjaan-pekerjaan pelayanan yang bahkan lebih besar dari pada yang telah dilakukanNya. Ini bisa terjadi karena Anak pergi kepada Bapa, untuk meminta kepada Bapa agar mencurahkan Roh Kudus atas kita. Sehingga kita dimampukan untuk melakukan perubahan, mujizat, dan pelayanan-pelayanan yang luar biasa.
Oleh karena itu, jadilah seorang History Maker, yaitu orang yang mengubah sejarah karena keberadaan atau tindakan orang tersebut. Ubahlah sejarah keluarga kita, dari yang awalnya tidak mengenal Kristus, tapi melalui kita, mereka mengenal Kristus. Ubahlah sejarah lingkungan kita, dari yang awalnya hanya "kristen KTP", menjadi murid-murid Kristus sejati, dan banyak hal-hal yang lain yang dapat kita lakukan di tengah-tengah lingkungan kita.
Ubah pandangan anda saat ini, jangan fokus pada kepentingan pribadi, pemuasan hawa nafsu, masalah pribadi yang bertubi-tubi, tetapi fokuslah kepada Tuhan dan pakailah kuasa Roh Kudus yang sudah ada pada kita, maka kita akan benar-benar menjadi History Maker yang berdampak luar biasa dalam lingkungan kita, tepat seperti yang diinginkan Tuhan, agar kita menjadi garam dan terang dunia.
Tuhan Yesus memberkati!
"Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" - 2 Kor 5:17
14 September 2012
13 September 2012
Sparring Partner
Amsal 27 : 17
Dimanapun kita berada, di sekolah, di tempat pekerjaan, di rumah, bahkan di komunitas gereja sekalipun, kita pasti memiliki semacam "rival"/"sparring partner" atau orang yang memiliki cara pandang, cara berpikir, dan cara bersikap, yang sangat berbeda dengan pandangan, pemikiran, dan sikap kita, sehingga sering bergesekan bahkan mengganggu kita.
Itu adalah hal yang sangat wajar, sebab di dalam Alkitab tertulis bahwa besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya. Tuhan mengijinkan adanya "sparing partner" ini untuk mengasah kita, sehingga kita bisa menjadi lebih sabar, lebih tekun, lebih kuat, lebih bijak, dan menjadi lebih dewasa.
Jadi janganlah bersungut-sungut atau menyerah dengan "sparing partner" kita, ingatlah bahwa kita diijinkan untuk memiliki mereka, agar kita semakin menjadi sempurna di hadapan Tuhan. Bersyukurlah dan jangan membenci mereka.
Tuhan Yesus memberkati!
"Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya"
Dimanapun kita berada, di sekolah, di tempat pekerjaan, di rumah, bahkan di komunitas gereja sekalipun, kita pasti memiliki semacam "rival"/"sparring partner" atau orang yang memiliki cara pandang, cara berpikir, dan cara bersikap, yang sangat berbeda dengan pandangan, pemikiran, dan sikap kita, sehingga sering bergesekan bahkan mengganggu kita.
Itu adalah hal yang sangat wajar, sebab di dalam Alkitab tertulis bahwa besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya. Tuhan mengijinkan adanya "sparing partner" ini untuk mengasah kita, sehingga kita bisa menjadi lebih sabar, lebih tekun, lebih kuat, lebih bijak, dan menjadi lebih dewasa.
Jadi janganlah bersungut-sungut atau menyerah dengan "sparing partner" kita, ingatlah bahwa kita diijinkan untuk memiliki mereka, agar kita semakin menjadi sempurna di hadapan Tuhan. Bersyukurlah dan jangan membenci mereka.
Tuhan Yesus memberkati!
12 September 2012
Facing Problems
Di dalam menjalani kehidupan, kita tidak bisa menghindarkan diri dari persoalan. Yang paling penting ialah bagaimana kita bisa menghadapi persoalan tersebut dan menang.
Bilangan 13-14 mengajarkan kita melalui Yosua dan Kaleb untuk menghadapi persoalan,
MILIKI KEYAKINAN YANG KUAT
Bilangan 13:30,"Tidak!,kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!". Di dalam menghadapi masalah, kita harus yakin pasti berhasil, tetapi dengan mengandalkan Tuhan
BERKATA POSITIF
Bilangan 14:7,"Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya." Meski secara riil, persoalan kita begitu buruk, tapi hendaknya kata-kata kita bisa membuat kita bersemangat dan termotivasi.
BERSANDAR PADA KEHENDAK TUHAN
Bilangan 14:8,"Jika Tuhan berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu..." Persoalan selalu ada, tetapi jangan takut dan khawatir, bersandarlah pada kehendak Tuhan.
JANGAN MEMBERONTAK DAN TAKUT
Bilangan 14:8-9,"Hanya,janganlah memberontak kepada Tuhan, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu." Memberontak disini adalah sikap bersungut-sungut yang bisa mengakibatkan pertolongan Tuhan tidak terjadi, jadi selalu bersyukurlah, karena ada berkat besar di balik setiap persoalan.
YAKIN AKAN PENYERTAAN TUHAN
Bilangan 14:9b,"Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang Tuhan menyertai kita..." Apapun yang kita alami, yakinlah bahwa Tuhan selalu beserta kita.
Tuhan Yesus memberkati!
11 September 2012
Perjanjian Tuhan dengan Umat-Nya
Ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita, pada saat itu juga ada perjanjian yang mengikat kita dengan Allah. Amos 3 : 3 menyebutkan, "Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?"
Kita semua sebenarnya tidak se-level dengan Tuhan kita, tetapi Dia mau mengikat perjanjian, bahkan memegang teguh perjanjianNya dengan kita. Di dalam Mazmur 89:35 dikatakan bahwa, "Aku tidak akan melanggar perjanjianKu, dan apa yang keluar dari bibirKu tidak akan Kuubah." Perjanjian/covenant berasal dari bahasa Ibrani, "Berith", atau "Diatheke" dalam bahasa Yunani. (baca di sini untuk lebih jelas)
"Tuhan bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia dan perjanjianNya diberitahukanNya kepada mereka." (Mazmur 25:14). Kita harus bergaul akrab dengan Tuhan, melalui doa, saat teduh, setiap waktu kita, agar perjanjianNya diberitahukan kepada kita.
Setiap perjanjian yang dibuat selalu disahkan dengan materai, demikian pula perjanjian kita dengan Allah, dimateraikan dengan darah Yesus. Matius 26:26-28 "...minumlah kamu semua dari cawan ini, sebab inilah darahKu, darah perjanjian..." Darah Yesus yang ditumpahkan, merupakan materai bagi perjanjian baru, 1 Korintus 11 :23-25, "...cawan ini adalah perjanjian baru yang dimateraikan oleh darahKu." Perjanjian baru ini tidak berubah dan tidak mungkin dilanggar oleh Tuhan sendiri.
Ulangan 8:18, "Sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang di-ikrar-kanNya." Kita semua yang percaya kepada Yesus, berhak atas perjanjian berkat yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham. Namun seringkali, kita mengalami hambatan dalam menerima berkat tersebut, karena,
Tuhan Yesus memberkati!
Kita semua sebenarnya tidak se-level dengan Tuhan kita, tetapi Dia mau mengikat perjanjian, bahkan memegang teguh perjanjianNya dengan kita. Di dalam Mazmur 89:35 dikatakan bahwa, "Aku tidak akan melanggar perjanjianKu, dan apa yang keluar dari bibirKu tidak akan Kuubah." Perjanjian/covenant berasal dari bahasa Ibrani, "Berith", atau "Diatheke" dalam bahasa Yunani. (baca di sini untuk lebih jelas)
"Tuhan bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia dan perjanjianNya diberitahukanNya kepada mereka." (Mazmur 25:14). Kita harus bergaul akrab dengan Tuhan, melalui doa, saat teduh, setiap waktu kita, agar perjanjianNya diberitahukan kepada kita.
Setiap perjanjian yang dibuat selalu disahkan dengan materai, demikian pula perjanjian kita dengan Allah, dimateraikan dengan darah Yesus. Matius 26:26-28 "...minumlah kamu semua dari cawan ini, sebab inilah darahKu, darah perjanjian..." Darah Yesus yang ditumpahkan, merupakan materai bagi perjanjian baru, 1 Korintus 11 :23-25, "...cawan ini adalah perjanjian baru yang dimateraikan oleh darahKu." Perjanjian baru ini tidak berubah dan tidak mungkin dilanggar oleh Tuhan sendiri.
Ulangan 8:18, "Sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang di-ikrar-kanNya." Kita semua yang percaya kepada Yesus, berhak atas perjanjian berkat yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham. Namun seringkali, kita mengalami hambatan dalam menerima berkat tersebut, karena,
- Tidak percaya, yang menyebabkan di ada di luar perjanjian
- Sikap miskin turun-temurun (Amsal 10:15 "...tapi yang menjadi kebinasaan bagi orang melarat ialah kemiskinan." Sikap miskin ini adalah tidak punya harapan, menganggap tidak ada peluang, tidak memiliki visi, dan sebagainya.)
- Ketidaktahuan/kebodohan
- Malas
- Pelit
Tuhan Yesus memberkati!
8 September 2012
Menakar dan Mengukur
Kadang bila kita merenung,
"Dulu saya lahir dari keluarga miskin.
Ketika melihat org kaya, saya bertanya2 mengapa mereka egois, tidak mau menolong orang miskin memperbaiki masa depan, bahkan tidak jarang malah memandang rendah?"
Namun ketika kemudian saya menjadi kaya krn bekerja keras, "Saya merasa orang miskin itu malas, tidak mau berinisiatif, maunya ditolong, iri, dan tak pernah berterima kasih?"
Mengapa begini ?
Tak jarang dlm hidup ini, kita punya standar ganda dalam "Menakar & Mengukur".
Kita kerap menilai orang lain dari "takaran" atau pandangan subjektif kita & tidak mampu memahami orang lain dari sudut pandang orang itu.
Kita kerap menuntut orang lain bersikap & berbuat seperti yang kita mau, padahal kita sendiri belum tentu melakukan yang sebaliknya.
Ketika berbuat salah, kita tak mau dihakimi.
Sebaliknya minta dimaafkan & dibantu keluar dari kesalahan.
Ketika membeli, kita menginginkan barang yang berkualitas dengan harga bagus & akan sangat marah jika dibohongi.
Ketika susah, kita mau orang lain menolong.
Dan semua ingin kita yang diutamakan dulu.
Apabila kita rindu tidak dihakimi, biarlah kita jangan menghakimi.
Apabila kita rindu dimaafkan ketika bersalah, biarlah kita jangan menghukum, tapi mengampuni orang yang bersalah kepada kita.
”Bila engkau memberi,kepada orang yg paling hina,maka sesungguhnya ,engkau telah memiutangi AKU”
Jangan sombong dan semena2 bila dipercayakan kekayaan,tidak ada seorangpun yg mengetahui hari esok.
Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
Gbu & Jesus Always Love U.
"Dulu saya lahir dari keluarga miskin.
Ketika melihat org kaya, saya bertanya2 mengapa mereka egois, tidak mau menolong orang miskin memperbaiki masa depan, bahkan tidak jarang malah memandang rendah?"
Namun ketika kemudian saya menjadi kaya krn bekerja keras, "Saya merasa orang miskin itu malas, tidak mau berinisiatif, maunya ditolong, iri, dan tak pernah berterima kasih?"
Mengapa begini ?
Tak jarang dlm hidup ini, kita punya standar ganda dalam "Menakar & Mengukur".
Kita kerap menilai orang lain dari "takaran" atau pandangan subjektif kita & tidak mampu memahami orang lain dari sudut pandang orang itu.
Kita kerap menuntut orang lain bersikap & berbuat seperti yang kita mau, padahal kita sendiri belum tentu melakukan yang sebaliknya.
Ketika berbuat salah, kita tak mau dihakimi.
Sebaliknya minta dimaafkan & dibantu keluar dari kesalahan.
Ketika membeli, kita menginginkan barang yang berkualitas dengan harga bagus & akan sangat marah jika dibohongi.
Ketika susah, kita mau orang lain menolong.
Dan semua ingin kita yang diutamakan dulu.
Apabila kita rindu tidak dihakimi, biarlah kita jangan menghakimi.
Apabila kita rindu dimaafkan ketika bersalah, biarlah kita jangan menghukum, tapi mengampuni orang yang bersalah kepada kita.
”Bila engkau memberi,kepada orang yg paling hina,maka sesungguhnya ,engkau telah memiutangi AKU”
Jangan sombong dan semena2 bila dipercayakan kekayaan,tidak ada seorangpun yg mengetahui hari esok.
Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
Gbu & Jesus Always Love U.
Kompromi
Kompromi merupakan hal yang biasa kita temui di dalam kehidupan kita sehari-hari. Mengambil jalan pintas (instant;praktis) untuk menyelesaikan masalah, menghidupi kebiasaan-kebiasaan buruk kita, berkubang dalam dosa, merupakan hal-hal yang tidak asing terjadi di sekitar kita, bahkan mungkin kita sendiri melakukannya.
Tetapi apakah itu yang Allah kehendaki bagi kita di dalam menjalani hidup? Dalam Roma 12:2 disebutkan, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." Seharusnya seperti ayat inilah kita tampil sebagai anak-anak Allah, yaitu tidak hidup serupa dengan dunia, tetapi hidup dengan standar Allah dan tidak berkompromi/menurunkan standarNya.
Mungkin kita berpikir, sesekali berkompromi itu tidak dilarang, tetapi sering sekali terjadi, cukup dengan satu/dua kali kompromi, standar kitapun menurun dan akibatnya kita terbiasa untuk hidup dengan kompromi. Menjadi tidak berkompromi memang bukan pilihan yang populer, tetapi ketika kita mau hidup dengan standar Allah, dengan tak berkompromi, Allah kita akan disenangkan, meski mungkin kita harus mengalami konsekuensi melewati kesulitan akibat tidak mau berkompromi. Allah kita adalah Allah yang suka melihat proses, Dia tahu kita masih hidup di dalam daging, masih sering tergoda untuk berkompromi, tetapi Ia juga mau kita berproses lebih baik, menjadi semakin serupa denganNya, dan itulah yang perlu kita usahakan.
Percayalah, ketika kita memilih untuk tidak berkompromi, Tuhan akan mempercayakan tanggung jawab yang lebih lagi, yang tentunya akan disertai dengan berkat yang lebih pula. Dan ketahuilah, ketika kita mengalami kesulitan akibat tak berkompromi, itulah yang akan memproses kita untuk menjadi lebih dewasa.
Tuhan Yesus memberkati!
Tetapi apakah itu yang Allah kehendaki bagi kita di dalam menjalani hidup? Dalam Roma 12:2 disebutkan, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." Seharusnya seperti ayat inilah kita tampil sebagai anak-anak Allah, yaitu tidak hidup serupa dengan dunia, tetapi hidup dengan standar Allah dan tidak berkompromi/menurunkan standarNya.
Mungkin kita berpikir, sesekali berkompromi itu tidak dilarang, tetapi sering sekali terjadi, cukup dengan satu/dua kali kompromi, standar kitapun menurun dan akibatnya kita terbiasa untuk hidup dengan kompromi. Menjadi tidak berkompromi memang bukan pilihan yang populer, tetapi ketika kita mau hidup dengan standar Allah, dengan tak berkompromi, Allah kita akan disenangkan, meski mungkin kita harus mengalami konsekuensi melewati kesulitan akibat tidak mau berkompromi. Allah kita adalah Allah yang suka melihat proses, Dia tahu kita masih hidup di dalam daging, masih sering tergoda untuk berkompromi, tetapi Ia juga mau kita berproses lebih baik, menjadi semakin serupa denganNya, dan itulah yang perlu kita usahakan.
Percayalah, ketika kita memilih untuk tidak berkompromi, Tuhan akan mempercayakan tanggung jawab yang lebih lagi, yang tentunya akan disertai dengan berkat yang lebih pula. Dan ketahuilah, ketika kita mengalami kesulitan akibat tak berkompromi, itulah yang akan memproses kita untuk menjadi lebih dewasa.
Tuhan Yesus memberkati!
5 September 2012
God-Centered
Matius 10 : 37-38
Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.
Prioritas hidup yang benar di mata Tuhan adalah prioritas yang berpusat kepada Tuhan (God-centered). Namun kenyataannya dalam kondisi saat ini, prioritas hidup manusia lebih cenderung berpusat kepada diri sendiri (self-centered).
Tuhan seringkali memberikan berkat kepada kita, agar kita berfokus pada visiNya, tetapi yang terkadang terjadi, kita memakai berkat tersebut untuk memenuhi keinginan-keinginan daging kita secara berlebihan.
Contoh lain, Tuhan juga memberikan pasangan hidup agar kita lebih bergairah dan saling mendukung satu sama lain dalam melayaniNya, tetapi terkadang kita menjadi lebih fokus kepada pasangan kita, sehingga pelayanan kita akhirnya semakin padam.
Terkadang Tuhan juga mengijinkan masalah terjadi, kematian, sakit penyakit, kehancuran rumah tangga, perceraian, sakit hati, dan sebagainya dengan tujuan mendewasakan kita agar kita semakin fokus padaNya, tetapi yang terjadi seringkali kita menjadi mengasihani diri sendiri (self centered).
Ketika Tuhan menitipkan segala sesuatu kepada kita, semuanya memiliki visi dan misi. Pilihlah untuk fokus kepadaNya, lakukan apa yang Tuhan kehendaki, sebab Dia-lah sumber segalanya. Ketika kita fokus kepadaNya, berkatlah yang mengejar kita, kemenangan dan terobosan dalam masalah-lah yang akan kita alami.
1 Korintus 15 : 58 menyatakan bahwa, "karena itu saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan!, sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."
Tuhan Yesus memberkati!
Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.
Prioritas hidup yang benar di mata Tuhan adalah prioritas yang berpusat kepada Tuhan (God-centered). Namun kenyataannya dalam kondisi saat ini, prioritas hidup manusia lebih cenderung berpusat kepada diri sendiri (self-centered).
Tuhan seringkali memberikan berkat kepada kita, agar kita berfokus pada visiNya, tetapi yang terkadang terjadi, kita memakai berkat tersebut untuk memenuhi keinginan-keinginan daging kita secara berlebihan.
Contoh lain, Tuhan juga memberikan pasangan hidup agar kita lebih bergairah dan saling mendukung satu sama lain dalam melayaniNya, tetapi terkadang kita menjadi lebih fokus kepada pasangan kita, sehingga pelayanan kita akhirnya semakin padam.
Terkadang Tuhan juga mengijinkan masalah terjadi, kematian, sakit penyakit, kehancuran rumah tangga, perceraian, sakit hati, dan sebagainya dengan tujuan mendewasakan kita agar kita semakin fokus padaNya, tetapi yang terjadi seringkali kita menjadi mengasihani diri sendiri (self centered).
Ketika Tuhan menitipkan segala sesuatu kepada kita, semuanya memiliki visi dan misi. Pilihlah untuk fokus kepadaNya, lakukan apa yang Tuhan kehendaki, sebab Dia-lah sumber segalanya. Ketika kita fokus kepadaNya, berkatlah yang mengejar kita, kemenangan dan terobosan dalam masalah-lah yang akan kita alami.
1 Korintus 15 : 58 menyatakan bahwa, "karena itu saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan!, sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."
Tuhan Yesus memberkati!
Langganan:
Postingan (Atom)






