28 Juni 2016

Subliminal Message

Beberapa hari lalu, timeline Facebook saya mendadak jadi HOT gara-gara hashtag #NoConjuringNoProblem. Heran karena gak biasanya, akhirnya saya iseng-iseng ikutin beberapa komentar dan status terkait hashtag ini. Btw, first of all saya nulis note ini bukan semata-mata karena yang posting hashtag itu adalah Pastor saya dan salah 1 orang yang saya respect, tapi karena setelah saya melihat komentar-komentar yang juga dari saudara seiman saya yang Kristen, saya jadi 'gatal' untuk sharing ini. Semoga sharing ini bisa sedikit memuaskan para sahabat dan saudara seiman saya dari kaum 'intelektual' yang mungkin kurang puas dengan jawaban-jawaban yang diberikan oleh saudara Kristen lain. And NO, I don't intend to start another debate. :)


FAITH / BELIEF


First, saya mau share dulu tentang iman (faith or belief). Bagi saya, iman / belief (tidak selalu berbau agama, tapi lebih dalam ke prinsip hidup atau bagaimana seseorang memandang kehidupan dan segala sesuatu di sekitarnya) itu bagian dari human nature. Theists believe in God or a Supreme Power above everything, Atheists believe there is no God, and for those who say they believe in nothing, well you actually believe in something (nothing). Saya nggak lagi bermain kata-kata, tapi kenyataannya seperti itu kan.

Lalu sekarang saya mau jelaskan apa dampak dari belief ini. Belief ini dibangun sejak kita lahir, entah dari keluarga atau nanti dari lingkungan setelah kita dewasa. Saya percaya kalau belief itu adalah core atau sumber yang mendasari semua pikiran dan perilaku kita. Oleh sebab itu, semua buatan manusia yang ada di kolong langit, sedikit banyak pasti ada pengaruh dari belief pembuatnya. Buatan manusia itu bisa berupa teknologi, karya seni, peraturan pemerintah, budaya, apapun itu yang dibikin manusia.

Contoh nih, perdebatan antara kaum Creationist dan Evolutionist. Yang satu percaya kalau Bumi itu umurnya sekitar 6000 tahun, yang satu percaya kalau Bumi umurnya sudah milyaran tahun. Sample tanahnya sama kok bisa beda interpretasinya? Dua-duanya kaum scientist lho yang nggak bakal buka suara kalau gak berdasarkan bukti scientific. Jawabannya ya karena belief tadi. Yang satu pakai kacamata Kristiani dan menggunakan Bible sebagai pembanding, yang satu Non-Kristiani dan berusaha untuk mematahkan argumen Bible. So I think, kebanyakan perdebatan dan perang di dunia ini itu sebenarnya pada intinya adalah karena perbedaan belief ini.


MEDIA


Sekarang saya masuk ke media. Sebagai orang yang bekerja di industri multimedia, saya cukup paham apa itu media dan kekuatannya (I'm not a media expert, but yeah I know what it is). Media dapat digunakan untuk membangun opini publik, dan saat opini publik itu terbangun, opini itu akan diterima sebagai sebuah truth. Makanya nggak kaget waktu pemilu terakhir di Indonesia, tiba-tiba banyak media-media news baru yang bermunculan. Itu karena mereka tahu the power of media, mencoba dengan senjata ini untuk membangun opini publik.

Orang Indonesia, menurut pengamatan pribadi saya, tipikalnya banyak yang suka latah. Ada judul artikel yang menyerang kaum yang berbeda belief-nya dengan dia, langsung di share karena merasa belief-nya disupport. Ada postingan foto, kalau like dan share bisa selamatkan orang-orang menderita di ujung dunia sono, langsung di like dan share. Eh, bro and sis, kalau mau nolong orang ya buat aksi yang nyata donk. Minimal, kalau gak bisa bikin aksi nyata ya doain, bukannya ngelike. nggak tau lagi kalau prinsipnya ngelike = doain #tepokjidat.

I'm not sure, tapi mungkin ada hubungannya juga dengan habit membaca yang kurang dihargai di negara kita tercinta. Malas membaca membuat malas mencari informasi, sehingga mudah sekali percaya dengan setiap informasi yang masuk.

Jadi, media sebagai bikinan manusia juga tidak terlepas dari pengaruh belief pemiliknya atau siapa yang menjalankannya. Apakah media itu jahat? Nggak! Tapi tergantung siapa yang pegang kontrol. Ibarat pisau, mau dipakai motong daging atau bunuh orang itu tergantung siapa yang pegang.



SUBLIMINAL MESSAGE




Nah sekarang saya akan masuk ke bagian yang jadi judul note saya kali ini. Subliminal message (bisa dicari di google) sederhananya adalah pesan terselubung yang disampaikan oleh seseorang lewat sebuah media. Pesan ini barang alus, bro and sis, nggak kerasa waktu masuk. Kalau langsung kelihatan buruk, kita refleks bisa menolak, tapi kalau barang alus? Tiba-tiba udah masuk gitu aja. *plung*

Ada pepatah berkata kalau 'mata dan telinga itu jendela jiwa'. Bagi saya, itu artinya mata dan telinga itu adalah jalan masuk dari semua informasi yang saya dengar, lihat, dan baca ke dalam jiwa / pikiran saya. Semua informasi itu seperti benih yang ditaburkan di memori saya yang entah tumbuh atau tidak nantinya. 'Tumbuh' di sini dalam artian benih itu matang dan sanggup untuk mengubah belief saya atau paling tidak minimal bikin saya bingung dan ragu dengan belief saya.

The problem is, begitu benih-benih ini ditaburkan, kita tidak bisa langsung menghapus dari memori kita. Kalau ada yang bisa shift+del memorinya, gak ada ceritanya orang bisa baper atau gagal move on, bro and sis. Saya juga minta diajarin kalau ada yang punya skill begitu. hehehe

Subliminal message itu seperti perokok pasif. Di awal-awal nggak kerasa efeknya, tau-tau sudah jadi penyakit. Waktu kita nonton film (film juga termasuk salah 1 media, fyi), nggak kerasa apa-apa. Kita yakinkan diri kita, 'ah itu kan cuma film', tapi suatu saat waktu kita ketemu situasi / experience yang ada mirip-miripnya dengan film itu, there's a chance memori tentang film itu akan pop up dan we might think that the film is the truth. Di sini kita mulai ragu dengan belief kita, apalagi biasanya dalam situasi-situasi yang memakai banyak emosi (marah/sedih/happy) bakal membuat pikiran kita kurang jernih. Iya kalau yang tumbuh itu dari benih yang baik, kalau nggak kan berabe.

Contoh sederhana nih, kalau pas lagi happy dengerin lagu patah hati, nggak ngefek apa-apa kan. Coba pas lagi patah hati dengerin lagu yang sama, kayaknya cuma lagu itu yang deh bisa ngertiin perasaan kita. Intinya yang saya mau sampaikan adalah it's all by chance.

Film terakhir yang saya tonton yang saya 'aware' dengan subliminal message nya adalah Kungfu Panda 3. Saya tulis 'aware' karena saya juga gak pede-pede banget selalu bisa mendeteksi 100% pesan-pesan model beginian (namanya juga barang alus, gan).

Buat yang udah nonton, di samping mengajarkan nilai-nilai yang baik seperti percaya diri, kerja tim, dan sacrifice untuk kebaikan orang lain, sadar nggak kalau film ini juga promote gay marriage? Sepanjang film, 1 pesan yang ditekankan adalah 'having 2 dads is awesome', di Indonesia mungkin tidak terlalu ngefek karena masih konservatif (thank God), tapi di negara-negara yang sudah men-sahkan UU yang mendukung LGBT, efeknya besar. Di negara-negara itu, kesempatan untuk melihat fenomena 2 papa dan 1 anak di jalan-jalan lebih besar daripada di sini. Film ini menarget audience anak-anak (mungkin) dengan harapan si pembuat pesannya adalah saat anak-anak ini dewasa nanti, mereka bisa lebih menerima hal itu.

Btw, perlu di garis bawahi bahwa saya menulis ini bukan berarti saya mendukung pelaku penembakan di Orlando beberapa hari lalu yang menewaskan banyak orang dari kaum LGBT. I believe that's not the way Christ love people.


WHAT ABOUT HORROR MOVIE?


Ini opini saya tentang film horor. Saya sendiri tumbuh dengan menonton film-film horror dan sadis. Sebut saja Nightmare on Elm Street, Emily Rose, Final Destination, Saw, Hostel, saya nonton itu semua dari saya masih kecil sampai remaja. Di tempat kursus bahasa Inggris saya dulu, guru saya punya cara unik untuk melatih kemampuan Inggris kami, yaitu dengan nonton film berbahasa Inggris + subtitle nya bahasa Inggris juga. Cara itu cukup efektif buat saya, tapi entah kenapa film yang diputar sering bergenre horror dan sadis gitu (kayaknya karena dia juga ngefans sih). And trust me, waktu adegan-adegan sadis di film-film model Saw dan Hostel, 1 ruangan cuma saya sendiri yang ketawa-ketiwi (karena udah biasa) sementara yang lain jerat-jerit. *iya, saya rada psycho kayaknya*

Sejak saya kenal Tuhan Yesus, secara perlahan-lahan saya juga ga tau persisnya, ketahanan saya untuk menonton film-film seperti itu jadi jauh menurun. Dari yang biasa, jadi nggak biasa/nyaman lagi. Dan setelah 10 tahun ini menjadi orang Kristen, saya mulai memahami, kalau boleh saya sebut, nature dari film horror.


Film horror ini plotnya langsung menembak ke arah spiritualitas / roh. Mana ada sih film horror yang nggak ada setannya? Prinsip-prinsip rohani yang diajarkan lewat film-film ini lah yang langsung menarget ke belief kita.

--
"Ah, kalau imannya gak kuat gak usah nonton lah. Kepo banget." Seperti yang udah saya sebut di atas, waktu nonton film gak kerasa apa-apa, bro and sis. Iman kuat emang harus, kita justru semakin hari harus terus menguatkan iman kita. Tapi ingat, mata dan telinga kita adalah jendela jiwa, ada benih yang ditabur dari film-film itu ke dalam memori kita yang menunggu waktu untuk tumbuh kalau situasinya mendukung.

Iblis itu suabarrr bro and sis kalau bekerja, mereka gak buru-buru, tapi deadly. Yang buru-buru itu cuma klien yang minta desain kelar besok hari.. (ups, malah curhat :p )

Saya beberapa kali berdialog dengan saudara sesama Kristen yang pas menyinggung topik tentang demonic activity, sedihnya banyak yang pemahamannya tentang demonic activity tidak berdasarkan Bible, tapi dari film-film horror yang pernah ditontonnya. Do u know that meskipun ada Bible-nya di film-film horror itu, biasanya udah di twist. Iya, saya percaya ada truth di segala sesuatu, bahkan di film horror sekalipun. Tapi twistnya suka alusss bro and sis, sampe kita ga sadar. Terutama buat yang jarang baca Bible / bacanya skip-skip karena merasa udah pernah tau ceritanya.

--
"Gak usah terlalu fanatik lah, apa-apa pake ayat dicocok-cocokin." Well, bro and sis yang bilang gini, saya jadi nanya balik, kamu Kristen bukan sih? Kalau bukan saya maklum, tapi kalau Kristen, harusnya tahu donk kalau Bible itu top and final authority. Segala sesuatu harus dilihat dan dibandingkan dengan prinsip-prinsip Alkitabiah.

"..pake ayat dicocok-cocokin." Nah, saya agak hati-hati dengan statement ini. Firman Tuhan itu ada 2 jenis, logos dan rhema. Logos yang tertulis (Alkitab fisik kita), dan rhema adalah yang Tuhan 'buka' / reveal melalui Roh Kudus saat kita membaca logos. Rhema tidak pernah bertentangan dengan logos, lha sumbernya sama dari Tuhan kok. Tapi, kadang kita belum bisa menerima rhema yang diterima seseorang karena rhema itu relevan dengan pengalamannya dia dan bukan kita. Atau ada pengetahuan-pengetahuan lain yang kita belum mengerti sehingga kita gagal paham dengan rhema orang lain. Tapi saya juga tidak menampik bahwa memang ada oknum-oknum yang memanfaatkan ayat-ayat Alkitab untuk personal gainnya. So, jangan buru-buru menjudge orang lain. ;)

--
"Pikirannya sempit banget." Ini lagu lama, udah lawass.

Masuklah melalui pintu [gerbang] yang sesak itu, karena lebarlah pintu [gerbang] dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu [gerbang] dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.

- Matius 7:13-14

Pintu yang sesak / sempit itu tidak cuma berbicara bahwa jalan keselamatan hanya ada pada Yesus Kristus, tapi juga bagaimana kita menjaga pikiran dan perilaku kita saat kita masih hidup di dunia. Alkitab juga mengajarkan jangan jadi serupa dengan dunia kan?

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

- Roma 12:2


"..be not conformed to this world (KJV)" jangan serupa / menjadi sama dengan nilai-nilai yang dunia ajarkan. Conformed itu seperti pudding yang dituang ke cetakan, Tuhan tidak mau setelah kita lahir baru, kita masih memakai cetakan duniawi.

Nah, karena orang Kristen tidak mengikut nilai-nilai dunia yang adalah mayoritas / populer tapi mostly corrupted, makanya orang Kristen disebut sempit pikirannya. Iya emang, sempit, tapi apa maksudnya orang Kristen trus jadi bodoh (sempit karena kurang pengetahuan) ?


Eitss, di Roma 12:2 dikatakan "berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan..", artinya kita juga harus mengejar pengetahuan. Tapi kali ini, dilihat dari prinsip-prinsip Alkitabiah. Tujuannya sebagai filter dari setiap informasi yang masuk ke dalam diri kita. Saya tidak setuju dengan orang Kristen yang tidak mengejar pengetahuan dan literally nyomot ayat Alkitab tanpa pengetahuan juga, menurut saya itu udah salah kaprah.

Hati orang berpengertian memperoleh pengetahuan, dan telinga orang bijak menuntut pengetahuan.

- Amsal 18:15.

Versi NIV "The heart of the discerning acquires knowledge,.." discerning itu artinya memilah, memfilter, membeda-bedakan. Telinga orang bijak menuntut pengetahuan, nah marilah kita menjadi bijak. :)

Ada 1 komentar yang saya lihat kemarin yang saya rasa cukup bikin geli. Ada 1 ibu-ibu yang membawa anaknya yang masih SD nonton Conjuring 2 dan berkata kalau dia mendapatkan pesan moral yang luar biasa dan mengajarkan anak nya kalau kuasa setan tunduk di bawah nama Yesus. Ermm, sorry sebelumnya, saya emang belum menjadi orang tua, tapi saya rasa itu cara parenting yang kurang tepat. Sistem rating dunia saja, merating film Conjuring 2 dengan label R (Restricted), Ibu kok bisa-bisanya bawa anak di bawah umur masuk. Udah gitu petugas bioskopnya mengijinkan. #tepokjidatlagi


---------------------------
Udah ah, nulisnya kepanjangan nanti malah gak dapet esensinya. Perlu di garis bawahi juga kalau saya bukannya mau support HIDUP DI GUNUNG aja biar nggak terpengaruh yang negatif. Masih ada kok media-media yang orang-orang di baliknya memberikan pesan-pesan yang positif. Yang penting kitanya yang harus lebih bijak memilah-milah, gitu aja. :)

Pesan terakhir yang saya mau sampaikan adalah jangan jadi orang Kristen yang ignorant dan yang terpenting tetaplah terus bertumbuh dalam iman akan Kristus.

Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.

- 1 Tesalonika 5:21



Tuhan Yesus memberkati!

31 Juli 2015

Menunggu

Suatu hari ketika saya berada di bandara untuk melakukan perjalanan antar-kota dengan pesawat, saya mendapati bahwa pesawat yang akan saya tumpangi mengalami delay. Delay artinya menunggu dan menunggu itu tidak enak.

Di dalam masa 'delay' itu, Tuhan mengajarkan sesuatu pada saya bahwa tidak ada yang saya bisa lakukan yang dapat membuat pesawat itu datang lebih cepat. Entah saya mau marah-marah dengan petugas maskapai, entah saya mau duduk-duduk saja, atau jungkir balik guling-guling di landasan pacu pesawat, tidak ada yang dapat membuat pesawat itu datang lebih cepat dari waktu delay yang sudah ditentukan. Tapi 1 hal yang pasti, pada akhirnya pesawat itu toh juga bakal terbang setelah dia siap.



Dalam kehidupan kita, kita sering mengalami masa-masa penantian yang 'sengaja' diijinkan Tuhan terjadi dalam hidup kita. Memang dalam beberapa kasus, masa penantian itu ada karena kita memang perlu memperbaiki / mengerjakan sesuatu dulu dalam diri kita baru berkat itu diberikan, alias diri kita sendirilah yang menyebabkan penundaan itu.

Tapi ada kasus juga dimana masa penantian itu diberikan seperti ilustrasi pesawat delay di atas, yang mana memang satu-satunya yang kita bisa lakukan hanya: MENUNGGU. Memang saat kita menunggu pesawat kita bisa melakukan hal-hal lain, misalnya baca buku, ngopi, main gadget, dengerin musik, dll, tapi sekali lagi, kegiatan-kegiatan itu tidak mempersingkat / meniadakan status delay-nya.

Satu hal yang menarik yang Tuhan katakan pada saya adalah MENUNGGU itu adalah perbuatan iman lho. Sederhananya begini, saat pesawat delay, kita rela menunggu karena kita PERCAYA bahwa setelah waktu delaynya selesai, pesawatnya pasti berangkat. Mana ada orang yang saat tahu pesawatnya delay, lalu buru-buru pulang ke rumah. Kalaupun ada orang yang kayak gitu (pulang gara-gara pesawat delay), pesawatnya tetap berangkat kan.

Nah, itu sama dengan saat kita menunggu janji Tuhan digenapi dalam hidup kita, kalau kita mau tetap PERCAYA sekalipun tidak ada yang kita bisa lakukan untuk membuat janji itu datang lebih cepat, maka pada waktu-Nya nanti, janji itu pasti digenapi. Kalau Tuhan sudah janji sama kita, sekalipun kita harus menunggu, jangan cepat-cepat 'pulang' karena males nunggu. Jangan-jangan saat waktu-Nya tiba, kita lagi tidak berada di tempat gara-gara kita udah 'pulang' duluan.. kan sayang banget.

2 Petrus 3:9
"Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat."

Ibrani 10:23
"Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia."

Dan 1 lagi yang kita perlu ingat, sesuatu yang butuh waktu biasanya lebih berharga dari yang instan: Bikin pop mie memang cepat, tapi lebih sehat kalau kita masak sendiri walaupun waktunya lebih lama. -> ini yang nulis penggemar mie instan lhoo :p


Be blessed!

27 Januari 2015

Bungkus Kado

Manusia pada umumnya memiliki kecenderungan untuk menjadi betah di dalam comfort zone, demikian pula halnya dengan saya. Saya menyukai stabilitas, kondisi yang tidak berubah-ubah, dan tentunya kepastian yang jelas untuk hari-hari ke depan. Saat ini saya menempati sebuah flat housing sewa yang sama dalam waktu enam tahun terakhir. Bukan flat yang mewah, namun cukup baik dan nyaman untuk saya, memiliki akses yang baik dan mudah untuk menjangkau berbagai tempat di kota saya.

Desember lalu tiba-tiba pemilik flat mengabari bahwa unit yang saya tempati akan dijual, sehingga di bulan Januari saya harus pindah ke unit yang lain. Perubahan yang mendadak ini benar-benar membuat saya tidak nyaman, sebab saya adalah orang yang suka dengan kestabilan, suka dengan comfort zone, dan suka dengan hal-hal yang sudah ter-planning jauh sebelumnya. Untuk move dalam waktu sebulan bukan sesuatu hal yang mudah untuk saya, pertama harus mencari unit baru yang sama besar dengan unit sekarang ini, karena saya tinggal dengan beberapa orang, selain itu juga memindahkan berbagai macam perabotan dan barang-barang pribadi yang luar biasa banyaknya.

Tidak lama kemudian, saya mendapat info bahwa unit dengan spesifikasi yang saya cari sudah ada, oleh karena unit tersebut tidak banyak jumlahnya dan kondisinya masih tersewa orang lain, maka sebelum saya bisa cek kondisinya, unit tersebut harus sudah di-book dahulu dengan membayar sejumlah down payment. Prosedur tersebut saya lakukan dan ketika penyewa sebelumnya sudah berakhir masa sewanya, saya bisa melakukan cek unit. Ternyata kondisinya tidak seperti yang saya bayangkan... mulai dari kondisinya yang kotor, bau, unit pendingin yang rusak, kondisi dinding dan pintu yang rusak bahkan kusam, membuat saya menjadi ragu. Namun di saat itu saya merasa tidak punya pilihan, akhirnya saya ambil juga unit flat tersebut.

Setelah pembayaran sewa dilunasi, perbaikan yang cukup banyak mulai dilakukan. Dalam masa-masa perbaikan unit, seorang teman mengomentari unit tersebut. Ia mengatakan bahwa ada unit yang harganya jauh lebih murah daripada unit yang saya sewa dan posisinya tepat di atas unit sewa saya yang lama!...dan celakanya, beberapa waktu lalu di area lantai yang sama dengan unit baru yang saya sewa, pernah terjadi pembunuhan, bahkan ada desas-desus dari orang sekitar tentang adanya penampakan hantu di depan koridor ex unit terjadinya pembunuhan tersebut!

Sebagai manusia normal, saya kecewa, marah, dan merasa tertipu oleh perantara yang menyewakan unit tersebut kepada saya. Namun di saat saya merasa "down", Tuhan mengingatkan kepada saya bahwa kadang ketika Tuhan mau memberikan "kado" kepada kita, Ia memakai "bungkus kado" yang usang, "bungkus kado" yang jelek dan tidak menarik.

Tiba-tiba saya jadi teringat kisah yang pernah saya baca, yaitu seorang pengemis yang memiliki mangkuk yang sangat berharga karena antik, namun karena mangkuk tersebut kondisinya sudah tertutup debu, kotoran, maka pengemis tersebut memakainya sebagai mangkuk untuk meminta-minta. Namun ironisnya, hingga ia meninggal, ia tidak tahu bahwa mangkuk tersebut sebenarnya sangat berharga dan bahkan jika ia bisa menjualnya, maka ia tidak perlu hidup dengan meminta-minta lagi.

Disini saya diingatkan, bahwa "kado" atau berkat Tuhan, terkadang di"bungkus" dengan masalah atau hal-hal yang buruk. Namun jika kita bisa menerimanya, dan mulai mengupas masalah ("bungkus") tersebut satu demi satu, maka berkat (isi "kado") yang luar biasa akan kita terima. Sampai saat ini saya tidak tahu apa sebenarnya "kado" yang mau Tuhan berikan lewat kejadian unit flat ini, karena "bungkus"nya terlihat jelek.

Namun saya mau mencoba belajar untuk menerimanya, sebab saya tahu Tuhan Yesus baik dan Ia adalah Bapa saya, tentunya Ia tidak akan memberikan sesuatu yang buruk atau bahkan mencelakakan saya. Ia mau saya belajar untuk memilih segala sesuatu dengan pertimbangan yang matang, belajar untuk menerima dan merespons secara positif hal-hal buruk yang menimpa saya, dan tentunya di balik semua itu, saya percaya ada "kado" yang baik sedang mengintip di balik semua masalah yang ada.

Jika kita membaca kitab Kejadian 37-50, kita akan tahu, bahwa sebelum Yusuf menerima "kado" jabatan sebagai Perdana Menteri Mesir, Tuhan mem"bungkus"nya dengan berbagai macam masalah, mulai ia dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, difitnah, dan dipenjara, namun setiap jalur tersebut, setiap "bungkus" jelek tersebut, membawa ia semakin dengan dengan "kado" sesungguhnya yang Tuhan mau karuniakan kepadanya.

Di awal tahun yang baru ini, saya tidak tahu anda diijinkan untuk menghadapi masalah apa, but don't judge a book by it's cover, jangan menilai buku dari sampulnya, jangan menilai "kado" Tuhan dari "bungkus"nya. Percayalah kalau Tuhan sendiri mau merendahkan diriNya dengan menjadi manusia, bahkan dihukum untuk menanggung segala dosa kita, tentunya Ia akan mengaruniakan segala sesuatu yang baik kepada kita.

Ingatlah, Ia adalah Bapa kita, kalau bapa di dunia yang jahat tahu cara melindungi dan mengasihi anaknya, tentunya Bapa kita yang baik akan sanggup melakukan hal-hal yang jauh lebih baik daripada itu. 

Tuhan Yesus memberkati!

8 November 2013

Pengubah Sejarah

1 Raja-Raja 17:8-16 - Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia: "Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan." 
Sesudah itu ia bersiap, lalu pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: "Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum." Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: "Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti." 
Perempuan itu menjawab: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati." 
Tetapi Elia berkata kepadanya: "Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi." 
Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.

Dari kisah di atas, kita mendapati bahwa ada seorang janda miskin dengan seorang anaknya dan Elia yang diperintahkan Tuhan untuk menemuinya. Ketika Elia bertemu si janda, betapa kagetnya dia bahwa si janda ternyata adalah janda miskin yang hanya memiliki sedikit tepung dan minyak untuk dibuat roti terakhir bagi dia dan anaknya sebelum mereka mati karena kelaparan. Tapi Elia percaya bahwa Firman Tuhan yang diberikan kepada dia adalah benar sehingga dia tetap memerintahkan si janda untuk memberi dia makan. Puji Tuhan respon si janda adalah respon yang positif sehingga pada akhirnya kita semua tahu akhir ceritanya, si janda dan anaknya dapat terus hidup sebab tepung dan minyak itu tidak pernah habis sampai pada waktu hujan turun.

Dari kisah tersebut, kita mendapati bahwa breakthrough yang kita butuhkan, seringkali datangnya pada masa-masa sulit kita, dan bahkan kita masih harus membayar harganya. Bayangkan ketika kita ada dalam posisi si janda, kita berhak untuk berpikir, “Tuhan, aku cuma punya roti dan minyak sedikit, cukup hanya buat aku dan anakku sebelum kami mati. Masakan Engkau tidak tahu penderitaan kami? Dan Engkau malah sekarang menyuruh kami memberi makan orang yang kami tidak kenal.” Tapi tidak demikian dengan si janda, dia berani mengambil resiko, mendahulukan kebutuhan orang lain daripada kebutuhannya. Sebagai akibat dari imannya, dia justru mendapatkan kebutuhannya dicukupi bahkan sampai berkelimpahan. Dari yang seharusnya sejarah mencatat “ada seorang janda dan anaknya mati”, menjadi tercatat “ada seorang janda dan anaknya hidup (berkelimpahan)”, bahkan kesaksian ini menjadi kesaksian kekal yang dicatat di dalam Alkitab dan dibaca sampai beribu-ribu tahun kemudian.

Tahukah anda bahwa kita sebagai pengikut Kristus dipanggil menjadi pengubah-pengubah sejarah ini? Entah sejarah dalam hidup kita, atau sejarah dalam kehidupan orang lain. Sebab Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang sanggup mengubah sejarah: memberikan kehidupan pada yang mati, memberikan kesembuhan pada yang sakit, memberikan kemenangan pada yang kalah, dan memberikan kesuksesan pada yang gagal. Apakah anda siap untuk menjadi pengubah-pengubah sejarah bagi Kristus?

Tuhan Yesus memberkati!

7 November 2013

Dalam Pemeliharaan Tuhan

Malam ini, ketika saya browsing-browsing blog lama saya, saya melihat ada 1 post (yang adalah kesaksian hidup saya sendiri) yang terekam dalam blog itu. Bahkan, saya sendiri lupa pernah mengalami hal tersebut dan menuliskannya. Well, when I'm reading on that, I'm still amazed by how GOD takes care of my life this far. Oleh karena itu, saya ingin berbagi berkat yang sama buat anda, semoga bisa menjadi inspirasi. :)


18 Mei 2011

Good is good.. All the time..

Hari Jumat malam lalu, seorang teman saya yang adalah ketua sebuah sel grup (persekutuan doa) sedang chatting dengan saya. Tiba-tiba dia bercerita bahwa salah seorang anggota sel nya mengalami masalah yang cukup berat. Dia tidak bisa membayar uang sekolahnya selama 5 bulan. Sementara mobil ayahnya yang bekerja sebagai sopir antar jemput, sedang rusak 1 minggu itu. Lebih parah lagi, hari Seninnya dia sudah UAS; yang mana kalau dia tidak bisa melunasi uang sekolahnya, dia tidak bisa mengikuti UAS.

Ketika mendengar berita itu, hati saya tergerak oleh belas kasih. Saya selalu prihatin dengan orang-orang yang kesulitan untuk melanjutkan sekolahnya, tapi terbentur biaya. Saya mengerti keadaan mereka karena saya juga pernah mengalami hal yang sama, tapi Tuhan menolong saya dengan cara-cara-Nya yang ajaib.

Terkadang saya berandai-andai, andai saja uang anak-anak orang kaya yang tidak niat untuk sekolah, bisa berpindah ke tangan anak-anak lain yang kurang beruntung secara finansial, tapi memiliki kemauan keras untuk belajar. Daripada uang itu dihambur-hamburkan untuk hal yang sia-sia, bukankah jauh lebih berguna jika digunakan untuk biaya sekolah anak-anak yang kurang mampu.

Tapi yang namanya berandai-andai tetap saja hanyalah andai-andai.. Hehehe.. Sama aja bo'ong kalau kita tidak bertindak dan cuma berbicara saja.

Akhirnya tanpa pikir panjang, saya langsung mengambil keputusan untuk mengosongkan account tabungan saya untuk membantu anak ini. Jumlahnya memang tidak banyak, hanya bisa meng-cover sebagian saja karena sebelumnya uang saya juga sudah saya gunakan untuk membantu anak lain dengan kasus yang sama.

Karena saya tahu bahwa dana yang dibutuhkan belum ter-cover semua, maka saya mengambil inisiatif untuk menggalang dana. Saya menghubungi beberapa teman saya dan puji Tuhan, ternyata mereka juga tergerak untuk membantu anak ini. :D

Disamping itu, saya juga berdoa pada Tuhan untuk mengirimkan bala bantuan bagi anak ini. Kabar terakhir yang saya dengar dari teman saya, si pemimpin sel anak ini, anggota-anggota sel grup nya ikut mengambil bagian dalam membantu anak ini, bahkan ada juga yang mencoba menawarkan pekerjaan agar anak ini dapat memiliki penghasilan sendiri nantinya.

Dari kasus ini, saya melihat bagaimana kasih Tuhan benar-benar nyata. Kejadian ini persis seperti yang diceritakan pada Kitab Kisah Para Rasul tentang bagaimana kehidupan gereja perdana. Mereka saling berbagi kasih, berbagi apa yang mereka punya, dan bersama-sama memuliakan Tuhan. :D

Nah, sampai hari ini, itulah kisah anak itu yang saya dengar. Saya belum sempat menanyakan lagi bagaimana kabar anak itu pada teman saya. Sekarang saya akan bercerita tentang kisah saya. :)

Seperti yang saya tulis di atas, saya mengosongkan isi tabungan saya di bank, yang artinya saldo saya sekarang dalam posisi 0. Uang saya yang tersisa di dompet cash hanya cukup untuk hidup 1 minggu, sementara proyek-proyek yang sedang saya kerjakan semua belum bisa ditarik pembayarannya. Alhasil, saya tidak tahu mau hidup pake uang siapa untuk minggu depan. Hahaha..

Tapi saya tidak terlalu memusingkan itu, karena sudah cukup terbiasa dengan kondisi seperti itu. Saya tahu dan saya percaya kalau Tuhan akan menolong saya.

Benar sekali, pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat. Kemarin saya baru saja menerima sebuah proyek yang kecil dan cukup mudah dikerjakan, yang artinya bisa segera saya selesaikan dan saya tarik pembayarannya. Dan hebatnya Tuhan, nilai proyeknya cukup untuk menghidup saya 2 minggu ke depan, tepat sebelum jadwal pembayaran saya yang lain bisa cair. Haleluyah, Praise the Lord!

Banyak sekali orang, yang kalau saya ceritakan kisah saya ini, selalu berkata, "Kalau kamu gitu terus kapan kayanya?" atau "Kenal aja ndak sama tuh orang, kenapa repot-repot bantu dia? Bukannya lebih baik kamu urus dirimu dulu?" Mendengar komentar-komentar seperti itu, biasanya saya hanya membalas, "Tuhan yang pelihara saya."

Hari demi hari, saya semakin bertumbuh dalam pengenalan akan diri-Nya, dimana pemeliharaan-Nya akan hidup saya menjadi semakin nyata. Yah, sama seperti manusia lain, saya masih punya rasa takut dan kuatir untuk masa depan, tapi ketika saya belajar untuk hidup dalam pemeliharaan Tuhan, saya dimampukan untuk tidak kuatir dan takut sehingga damai sejahtera itu dapat turun dalam hidup saya.

"Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya." (1 Timotius 6:17-19).

Tuhan memberkati!

6 November 2013

Lift Up the Standard

Yesaya 59:19 - Maka orang akan takut kepada nama TUHAN di tempat matahari terbenam dan kepada kemuliaan-Nya di tempat matahari terbit, sebab Ia akan datang seperti arus dari tempat yang sempit, yang didorong oleh nafas TUHAN.

Ayat di atas berbicara mengenai peningkatan standar (...Roh Tuhan akan mengangkat standar untuk menghadapinya). Latar belakang ayat ini, bangsa Israel sedang berantakan, hidup di dalam dosa. Tuhan menghukum mereka dengan menggunakan bangsa lain, di saat itu, Tuhan juga mengangkat standar bangsa Israel untuk menghadapi mereka, sehingga banjir (musuh) yang menyerang mereka, tidak bisa menenggelamkan mereka, sebab Roh Kudus mengangkat mereka.

Tujuan Tuhan mengangkat standar kita adalah agar kita mengalahkan setiap musuh dan tantangan, bisa berupa serangan iblis, masalah, pesaing kita, dan sebagainya.



Ada 2 hal yang penting dlm mengangkat standar,

Roh Kudus akan meningkatkan standar rohani kita

Mikha 3:8, Tetapi aku (Mikha) ini penuh dengan kekuatan, dengan Roh Tuhan, dengan keadilan dan keperkasaan, untuk memperingatkan Yakub. Iblis selalu berusaha menurunkan standar (moral) kita, lewat dosa dan hal-hal lain, oleh karena itu kita harus meningkatkan standar rohani kita, agar kita menang.
  • Tingkatkan standar doa, dimulai dari doa pribadi kita
  • Tingkatkan standar ibadah
  • Tingkatkan standar membaca dan merenungkan Firman, karena ini akan membantu kita untuk menghadapi "banjir" (musuh).
  • Tingkatkan standar kekudusan dan ketaatan kita

 

Roh Kudus akan meningkatkan standar kerja dan kemampuan kita

Peningkatan ini tdk semata-mata karena usaha kita, tetapi karena Roh Kudus. Daniel 6:4,"...melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa, dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya." Roh di dalam ayat tsb bukan Roh Kudus, tapi excellent spirit untuk melakukan segala sesuatu dengan standar yang tinggi.
Cara meningkatkan standar kerja dan kemampuan kita,
  • Tingkatkan profesionalisme kita, dalam ketepatan waktu, dalam kualitas
  • Tingkatkan leadership kita, kepemimpinan itu seperti katup, jika kita tidak meningkatkan leadership kita, maka yang di bawah kita tidak akan bisa naik
  • Tingkatkan kemampuan manajemen kita, tidak hanya dalam pekerjaan, namun dalam pelayanan
  • Tingkatkan upaya dan kerja keras kita

Tuhan Yesus memberkati!

5 November 2013

You Reap What You Sow

Galatia 6:7, "Jangan sesat!, Allah tidak membiarkan diriNya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya."
Apa yang kita tabur, suatu hari kelak akan kita tuai.
Ada beberapa prinsip dalam hukum tabur tuai,

 

Kita akan menuai jenis yang sama dengan apa yang kita tabur

Gal 6:7b, "...karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya." Ada beberapa benih yang bisa kita tabur,
Gal 6:9-10, "janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah." (benih kebaikan),  
Ayub 4:8, "Yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga." (benih kejahatan),
Amsal 22:8,"orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana, dan tongkat amarahnya akan habis binasa." (benih kecurangan),
Lukas 6:38, "berilah dan kamu akan diberi..." (benih harta/uang).

Kita akan menuai kualitas yang sama dengan kualitas yang kita tabur

Jika kita mau memberi orang lain, berilah dengan kualitas yang terbaik, bukan hal-hal yang berkualitas buruk/bekas.

Kita akan menuai jauh lebih banyak daripada yang kita tabur

Kej 26:12, "maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat,..."
Matius 12:23, "yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti..." (sehingga menuai 30,60,100 kali lipat).

Kita akan menuai pada waktunya Tuhan

Kita tidak pernah bisa menghitung kapan waktunya kita akan menuai ketika kita menabur di ladang Tuhan.
Gal 6: 9, "Janganlah kita jemu2 berbuat baik, karena apabila SUDAH DATANG WAKTUNYA, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah."  
1 Tim 6:18-19," Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan berbagi, dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik di waktu akan akan datang..."

Tuhan Yesus memberkati!

4 November 2013

Mental Blocking

Cara kita membuat keputusan, sikap, karakter, cara pandang kita saat ini merupakan hasil bentukan dari lingkungan kita, baik keluarga, orang-orang terdekat, maupun pengalaman-pengalaman yang pernah kita alami.

Apakah ini terbatas? Tentu saja, karena kita adalah anak-anak Allah yang bekerja dengan Allah yang tidak terbatas. Mental blocking adalah suatu keterbatasan yang kita ciptakan dalam pikiran kita sendiri, dibentuk melalui pengalaman maupun lingkungan tempat kita bertumbuh, terutama lingkungan negatif ataupun pengalaman traumatis.

Bila kita memiliki banyak mental blocking, maka akan menghambat akselerasi yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita. Ada beberapa contoh mental blocking yang sering kita temui di dalam kehidupan sehari-hari, antara lain,
  1. Ketidaksanggupan untuk menerima pekerjaan/pelayanan yang baru/berbeda
  2. Tidak fleksibel terhadap tuntutan waktu, yang semula terbiasa untuk mem-planning segala sesuatu jauh-jauh hari, tidak sanggup untuk menerima hal-hal yang mendadak/perubahan
  3. Terbiasa menyimpan uang sebanyak-banyaknya dan hidup sangat berhemat, karena merasa lebih aman dengan banyak tabungan.
  4. Mudah merasa seluruh kehidupannya gagal dan rusak, padahal hanya menghadapi satu kegagalan
  5. Merasa bahwa dirinya/cara bekerjanya seperti itu, tidak bisa berubah
  6. Berpikir bahwa pelayanan hanya untuk hari Minggu/di dalam gereja, namun tidak memberikan dampak positif untuk lingkungannya
  7. Beranggapan bahwa uang adalah tolak ukur kebahagiaan seseorang
  8. Merasa diri sendiri tidak mampu
  9. ...dan berbagai mental blocking lainnya.


Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak terbatas, yang mampu memberkati kita dengan tidak terbatas, namun seringkali mental blocking kita sendiri-lah yang menghalangi berkat-berkat Tuhan. Ketika Tuhan menyuruh kita melakukan hal-hal di luar kebiasaan kita, yang mungkin terdengar tidak masuk akal, kita sudah mundur, sudah menolak, bahkan merasa bahwa itu bukan kehendak Tuhan. Padahal cara-cara Tuhan tidaklah terselami dan hal-hal yang tidak masuk akal, di luar comfort zone kita, bahkan bisa menarik kita masuk ke dalam berkat yang lebih besar dan lebih dalam.

Ada seorang karyawan yang mengidamkan memiliki sebuah rumah. Ia rajin menabung dan berdoa, namun setelah beberapa tahun berlalu, uang yang disimpannya masih belum mencukupi bahkan harga rumah idamannya semakin lama semakin mahal. Sampai pada suatu hari datanglah kesempatan untuk mengajukan kredit pada bank untuk membeli sebuah rumah, karyawan ini berpikir, "Apakah ini jawaban doaku selama bertahun-tahun? Tetapi kalau Tuhan mau memberkatiku dengan sebuah rumah, mengapa aku harus berhutang? Bukankah Tuhan adalah Tuhan yang sangat kaya dan tentunya sangat sanggup untuk memberkatiku tanpa harus membuatku berhutang kepada bank..." Lalu ia menimbang-nimbang lagi dan berdoa, sehingga akhirnya ia memantapkan hati bahwa ini adalah jalan yang Tuhan tawarkan dan jadilah ia mengambil kredit tersebut. Pada bulan-bulan awal cicilannya, ia hidup dengan sangat berhemat, semua pengeluaran diminimalisir sebisa mungkin, sehingga gajinya cukup untuk mencicil pinjaman beserta bunganya, meskipun ia hidup pas-pasan dan tidak nyaman. Tidak lama setelah itu, ia mendapat kabar dari kampungnya, bahwa kedua orang tuanya mendadak sakit, sehingga butuh biaya pengobatan, dan karena mereka sudah tidak bisa lagi bekerja akibat sakit, akhirnya berimbas kepada adik si karyawan ini, yang semula setelah lulus SMU berencana untuk melanjutkan kuliah, namun terhambat karena kondisi keuangan keluarga tersebut tidak memungkinkan untuk membiayai. Dalam kondisi yang pas-pasan dan tertekan, karyawan tersebut akhirnya membuka bisnis kecil-kecilan yang ia lakukan di luar jam kerja kantornya. Pada mulanya hasil bisnisnya hanya cukup untuk menutupi biaya pengobatan kedua orang tuanya, namun lambat laun, usahanya mulai berkembang, ia memiliki uang sisa untuk menyekolahkan adiknya, dan beberapa waktu kemudian, usahanya berkembang cukup baik sehingga ia memutuskan untuk keluar dari kantornya dan fokus kepada bisnis pribadinya. Selang beberapa tahun kemudian, ia menyadari, kalau ia tidak ditekan dengan kondisi cicilan rumah, orang tua yang sakit, dan adik yang terpaksa tidak bisa melanjutkan kuliah, ia tidak akan mungkin berpikir untuk berbisnis sendiri. Bahkan saat ini ia bisa melihat, ia mendapat berkat rumah, yang cicilannya telah usai, kedua orang tuanya kembali menjadi sehat, dan adiknya bisa menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Disini ia melihat, Tuhan bisa memakai cara-cara yang tidak biasa, mungkin membuat ia harus keluar dari comfort zone, namun Tuhan mampu memberkati secara luar biasa, tidak hanya rumah, pendidikan, kesehatan yang didapatnya, namun pengenalan yang lebih dalam akan pribadi dan cara kerjaNya.

Mental blocking apakah yang anda miliki saat ini? Catatlah pada secarik kertas dan doakanlah kepada Tuhan, agar Dia membantu kita untuk melepas seluruh benteng-benteng pada pikiran/mentalitas kita, dan usahakanlah untuk selalu hidup dalam pimpinan Roh (Roma 8:12-17). Sebab Roh Allah tidak membuat kita menjadi takut, Dia akan memimpin kita dan memastikan kita untuk menerima janji-janji Allah sehingga kita bisa hidup berkemenangan dan berkelimpahan tanpa batas di dalam Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati!

3 November 2013

BIG: Be Imitators of God

Roma 8:29, setiap anak Tuhan adalah orang-orang pilihan. Kita sudah dipilih dan ditentukan dari semula untuk menjadi serupa dengan Yesus. Menurut ayat ini, tujuan terpenting dalam hidup kita adalah kita harus makin serupa dengan Kristus.

Kej 1:26-27, Tuhan menciptakan kita serupa denganNya, memiliki karakter dan sifat yang serupa denganNya. Namun setelah jatuh di dalam dosa, gambar Allah di dalam diri kita menjadi rusak. Oleh karena itu Yesus datang untuk menebus, menyelamatkan, bahkan mengembalikan gambar Allah yang rusak di dalam diri kita. Caranya dengan menjadi manusia agar bisa menjadi model bagi manusia untuk ditiru, diimitasikan oleh manusia sehingga serupa denganNya.

Di dalam diri kita sudah ditaruh oleh Tuhan sifat untuk meniru, namun sayangnya seringkali apa yang kita tiru adalah salah, padahal seharusnya yang kita tiru adalah Yesus, bukan idola-idola yang lain.

Efesus 5:1, jadilah penurut-penurut Allah; be ye therefore imitators of God. Penurut (mimetes; dalam bahasa Yunani) adalah peniru atau pengikut. Kata "jadilah" di depan kata penurut dalam bahasa Yunani adalah "ginomai", yaitu hal yang dilakukan terus menerus, bukan sesekali, dan dilakukan seumur hidup. Jadi setiap hari kita harus menjadi lebih seperti Yesus.

Beberapa sifat Allah yang menonjol yang harus kita tiru,

Kudus
1 Petrus 1:15-16, hendaklah kamu menjadi KUDUS di dalam SELURUH HIDUPMU. Kudus : dipisahkan (dalam bahasa Ibrani : "kados") dari dunia, cara-cara dunia. Kudus juga berarti murni, bersih, dan tidak berdosa. Setiap peraturan yang Tuhan berikan, sebenarnya ditujukan untuk keuntungan dan kebahagiaan kita, bukan memberatkan kita. Ketidakkudusan membuat hidup kita tidak berhasil, tidak bisa melihat peluang, tidak diberkati, tidak bahagia.  

Murah Hati
Efesus 5:1-2, dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu. Ketika kita menjadi orang yang suka memberi, maka kita menjadi seperti Yesus. Yesus adalah pemberi yang terbesar, karena Dia telah memberikan semuanya, bahkan hidupNya untuk kita. Lukas 6:36, hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati.

Rendah Hati
Filipi 2:5-8,... melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, ...Ia telah merendahkan diriNya. Tanggalkan kehebatan kita, jadilah orang yang rendah hati, karena dosa yang paling Tuhan tidak suka adalah kesombongan. Seringkali pada saat kita sadar bahwa kita rendah hati, justru kita tidak rendah hati. Karena kerendahan hati yang sejati, tidak kita sadari. Orang yang betul-betul rendah hati pasti ditinggikan pada waktunya Tuhan, namun orang yang sombong pasti direndahkan.

Tuhan Yesus memberkati!

2 November 2013

Sabar Menanti Waktu Tuhan

Di dunia yang serba instant saat ini, sangatlah sulit bagi kita untuk menemukan kesabaran atau bahkan bersikap sabar. Karena tuntutan dunia instant adalah kecepatan, segala sesuatu harus cepat, target harus cepat tercapai, pekerjaan harus cepat terselesaikan, komunikasi harus cepat dan sebagainya.

Namun tidak demikian jika kita ingin melihat janji atau pertolongan Tuhan terjadi di dalam hidup kita, tidak ada penggenapan janji dan pertolongan yang instant, semua ada prosesnya dan kita harus bersabar. Saat ini banyak orang Kristen yang tidak sabar menunggu janji Tuhan, menunggu jawaban doa, menunggu pertolongan Tuhan, sehingga mereka mengandalkan orang lain/dirinya sendiri untuk keluar dari masalah, yang malah menyebabkan segala sesuatunya menjadi lebih buruk dan bahkan menunda berkat yang telah Tuhan sediakan.


Masalah atau cobaan diberikan Tuhan untuk memproses karakter dan kedewasaan kita. Oleh karena itu dibutuhkan proses kesabaran untuk menghadapi masalah dan keluar sebagai pemenang. Jangan melarikan diri dari masalah, juga jangan mencari shortcut untuk jalan keluarnya, tetapi tunggulah hingga Tuhan meyakinkan, apa yang harus kita lakukan berikutnya, sehingga sedikit demi sedikit kita akan keluar dari masalah tersebut, bahkan karakter baru kita akan terbentuk, dan tentunya ada berkat/janji yang telah Tuhan sediakan di balik setiap masalah.

Apabila saat ini anda sudah berputus asa, sudah mulai kehilangan kesabaran menunggu waktu Tuhan, atau mungkin sudah memutuskan melakukan sesuatu karena merasa Tuhan belum menjawab doa anda, berhentilah! ...dan berpalinglah kepadaNya, mintalah kekuatan dan hikmat dariNya, dan tunggulah waktuNya. Sebab kesabaran bukan anugerah yang instant diberikan, namun kesabaran merupakan buah roh, yang terbentuk/berbuah ketika kita berlatih untuk taat dan menunggu waktuNya Tuhan. Kesabaran akan mendatangkan berkat, ketidaksabaran akan mendatangkan celaka. Percayalah bahwa Ia mengasihi kita, Ia akan menjawab seruan kita pada waktuNya.  
"Sebab itu Tuhan menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasihNya kepada kamu;sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab Tuhan adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia! Sungguh, hai bangsa di Sion yang diam di Yerusalem, engkau tidak akan terus menangis. Tentulah Tuhan akan mengasihani engkau, apabila engkau berseru-seru;pada saat Ia mendengar teriakmu, Ia akan menjawab." (Yesaya 30:18-19). 

Tuhan Yesus memberkati!

1 November 2013

New Manual Book Part. 01 : Otoritas Alkitab dan Tanggung Jawab Orang Percaya

Alkitab bukanlah sebuah buku biasa, semua ayat-ayat Firman di dalamnya adalah pewahyuan Allah akan diriNya sendiri. Ayat-ayat tersebut juga diilhamkan oleh Allah sendiri secara verbal, artinya setiap kata di dalam Alkitab diilhamkan oleh Allah sendiri, oleh karena itu Alkitab sangat bermanfaat bagi kehidupan kita (2 Timotius 3:16).

Semua ayat di dalam Alkitab adalah sempurna, dalam artian tidak bisa salah, dan Alkitab sendiri merupakan otoritas terakhir dalam hidup kita, sehingga apa yang kita lakukan, harus selalu berdasarkan Firman Tuhan di dalam Alkitab. Oleh karena itu kita tidak boleh menambahi/mengurangi isi Firman Tuhan (Ulangan 4:2) dan ada kutuk yang menyertai apabila kita salah memberitakan Injil (Galatia 1:8-9).

Ada beberapa cara untuk membuktikan bahwa Alkitab bukan sekedar sebuah buku biasa,
  1. Kesaksian Yesus yang hidup oleh ayat-ayat Firman yang mendukung kebenaranNya dan otoritasNya
  2. Kesaksian para rasul, dimana mereka rela mati daripada menyangkal kebenaranNya
  3. Kesatuan dari pesan, Alkitab ditulis 40 pengarang yang menulis 66 buku dalam rentang waktu 1600 tahun, namun temanya sama
  4. Peredaran Alkitab mencapai seluruh negara-negara utama dengan berbagai terjemahan, tidak ada buku lain dengan peredaran seluas itu.
  5. Tidak memiliki batas waktu, dari dulu hingga sekarang, Alkitab tetap memegang kebenaran bagi setiap generasi
  6. Pemeliharaan, banyak upaya memusnahkan Alkitab, namun tidak ada yang berhasil
  7. Kehidupan diubahkan, ayat-ayat Firman di dalam Alkitab, mampu mengubahkan seseorang dengan cara yang luar biasa
  8. Adanya penggenapan nubuatan dari perjanjian lama kepada perjanjian baru, seperti Kristus dilahirkan di Bethlehem (Mikha 5:1 dan Matius 2:1-8)

Oleh karena itu, setiap orang yang telah percaya kepada Yesus Kristus, memiliki tanggung jawab untuk mengetahui isi Alkitab, merenungkan Firman di dalamnya, dan mentaati serta menerapkannya dalam hidup kita. Sebab yang disebut murid Yesus, adalah mereka yang tetap hidup di dalam FirmanNya (Yohanes 8:31-32). Dengan tuntunan Firman Tuhan dalam Alkitab, maka kehidupan kita akan diubahkan, kita akan dimampukan untuk melewati berbagai rintangan, kita akan diajar untuk mengenal Pribadi dan karyaNya, dan kita akan mengetahui, bahkan mengalami janji-janjiNya yang luar biasa bagi hidup kita.

Tuhan Yesus memberkati!

31 Oktober 2013

CORE : Community of Revival; Komunitas Pemulihan

Core (komunitas sel) merupakan komunitas anak-anak Tuhan yang tujuannya memperoleh pemulihan bagi setiap pribadi, sehingga semakin dewasa di dalam Kristus.

Oleh karena itu tidaklah heran di dalam komunitas pemulihan, kita akan menemui beragam orang dengan beragam kebiasaan, latar belakang, bahkan masalah yang berbeda dengan kita. Perbedaan-perbedaan ini tentunya bukan disikapi dengan rasa permusuhan, namun justru perbedaan-perbedaan ini dibutuhkan untuk "menggesek" karakter kita dengan orang lain dalam komunitas tersebut, sehingga kita bisa mempraktekkan ajaran Firman Tuhan ketika kita saling bergesekan.



Jika visi utamanya adalah pemulihan, maka kita sebagai anggota komunitas tersebut harus menyadari bahwa kita dan teman-teman lain dalam komunitas perlu dipulihkan. Oleh karena itu hindari sikap saling bermusuhan, bergosip/terlalu ingin tahu permasalahan orang lain dan menyebarkannya, menjelekkan orang lain, mencari-cari kesalahan/kambing hitam, iri terhadap satu dengan yang lain, yang semuanya itu akan membuahkan kehancuran komunitas dan kerugian setiap anggotanya karena pemulihan akhirnya tidak terjadi.

Sebagai anggota komunitas pemulihan, dengan perbedaan yang ada antar pribadi, belajarlah untuk mengalah, belajar untuk mengampuni dan melupakan, belajar untuk tidak mencemari satu dengan yang lain/menjaga kekudusan, belajar untuk rendah hati, belajar untuk cepat mendengar namun lambat berbicara, belajar untuk menahan amarah, belajar untuk berkorban, belajar untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan Firman Tuhan, sehingga dengan demikian, setiap anggota komunitas akan mengalami pemulihan di dalam Tuhan.

Ketika kita berdoa minta pemulihan untuk setiap masalah kita, Tuhan memberikan, namun Dia juga menginginkan kita mengusahakannya. Core merupakan sarana kita belajar untuk meraih pemulihan yang Tuhan berikan, melalui masalah dan perbedaan-perbedaan antar anggotanya.

Core yang positif akan saling memberkati, saling mendukung, menguatkan yang lemah, bahkan memberkati dengan talenta kita masing-masing. Seperti yang tercantum di dalam 1 Korintus 14:26,"...bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu; yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau pernyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun." Alkitab berbicara dengan tegas, kewajiban kita sewaktu kita berkumpul adalah memakai apa yang ada pada kita untuk membangun orang lain, bukan untuk menghancurkan orang lain.

Jika saat ini anda rindu untuk memperoleh pemulihan di dalam Tuhan, berdoalah kepadaNya, minta Roh Kudus untuk memimpin setiap perilaku dan perkataan kita, sehingga kita bisa membangun orang lain di dalam komunitas sehingga bersama-sama dengan mereka, karakter, sikap, kebiasaan kita, hati kita, bahkan masalah-masalah kita, akan dipulihkan oleh Tuhan melalui proses-proses yang diijinkanNya terjadi.

Tuhan Yesus memberkati!

30 Oktober 2013

Menjadi Murid Yesus

Matius 28:19-20 - "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Dari perikop di atas, kita mendapat tugas dari Tuhan Yesus untuk pergi memberitakan Injil. Targetnya tidak hanya sekedar menjadikan orang menjadi Kristen atau anggota sebuah gereja, melainkan menjadikan orang menjadi murid.


Murid menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), adalah orang yang sedang berguru, belajar, bersekolah. Menurut Tyndale Bible Dictionary seorang yang mengikuti orang lain dan mengikuti jalan hidupnya dan mau didisiplinkan atau diajar.  Kata murid dalam bahasa Inggris : "disciple" yang berasal dari kata "discipline". Dlm bahas Yunani, murid adalah "mathetes", tidak hanya menerima pandangan gurunya, tapi mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jadi seorang murid adalah orang yang belajar pada seorang guru, mengikuti jalan hidupnya, disiplin, dan mempraktekkan ajarannya.

Lukas 9:57-62, murid mau mengikut gurunya kemanapun gurunya pergi.
Untuk menjadi murid Yesus kita harus,
  1. Tahu konsekuensinya, ada harga yang harus dibayar. Matius 16:24, setiap orang yang mengikut Yesus, harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku. To believe Jesus, cost nothing, to serve Jesus, cost something, but to follow Jesus, cost everything. Tetapi ingatlah, kemuliaan yang Tuhan sediakan, jauh lebih besar daripada harga yang harus kita bayar.
  2. Tidak boleh menunda. Lukas 9:59-60, menjadi murid Tuhan tidak boleh menunda.
  3. Tidak boleh mendua hati. Lukas 9:61-62, mengikut Yesus, harus melepaskan seluruh kebimbangan.
Tuhan Yesus memberkati!

29 Oktober 2013

Kesatuan Yang Rusak: Awal Kehancuran Sebuah Visi

Iblis tidak takut anak-anak Tuhan rajin ke gereja, sebab meski di gerejapun, pikiran anak-anak Tuhan bisa dialihkan untuk tidak fokus terhadap Firman Tuhan / hadirat Tuhan. Namun iblis akan menjadi takut kalau anak-anak Tuhan mulai bersatu, karena di dalamnya, ada kuasa Tuhan yang besar yang akan dinyatakan.

Cara kerja iblis yang berbahaya bukanlah kemunculan secara fisik untuk menakut-nakuti manusia, tetapi mempengaruhi manusia, sehingga berpikir negatif terhadap orang lain, tidak mau mengampuni, tidak mau mengasihi, menjadi mudah marah, tersinggung, sakit hati, dan trauma, sehingga kesatuan hati anak-anak Tuhan menjadi rusak, dan hancurlah visi Tuhan yang luar biasa untuk anak-anak Tuhan.



Apakah kita mau diperdaya oleh iblis hingga masa depan dan visi Tuhan dalam hidup kita rusak total? Waspadalah, cek hati dan kerohanian kita, apabila ada hal yang perlu dibereskan, bereskanlah saat ini juga, mungkin di keluarga kita, komunitas kita, atau pekerjaan kita. Tuhan tidak suka perpecahan, Tuhan mau setiap kita menjadi satu tubuh, agar kuasa Tuhan, urapan, berkat, benar-benar nyata tercurah. Kesampingkan ego, harga diri, mengalahlah satu terhadap yang lain, utamakanlah yang lain, kasihi satu dengan yang lain terutama musuhmu, dan ketika itu terjadi, maka kekalahan iblis sudah tidak tertunda lagi.

Yohanes 10:10 - "Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan."

Firman Tuhan berkata bahwa iblis adalah pencuri, yang datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan (Yohanes 10:10a), jadi waspadalah terhadap suara iblis, respons-lah segala sesuatu dengan benar sesuai Firman Tuhan, agar kita benar-benar memiliki hidup yang berkelimpahan (Yohanes 10:10b). Sebab kita tidak bisa menghalangi hal-hal negatif datang kepada kita, namun dengan respon yang benar, hal negatif tersebut akan diputar balikkan oleh Tuhan menjadi hal yang positif bagi kita.

Tuhan Yesus memberkati!

28 Oktober 2013

New Relations

Setelah kita mengalami proses kelahiran baru, kita perlu mengenal dan membangun 4 hubungan baru, agar kita mengalami kehidupan kekristenan yang sejati, yang mengalami janji-janji Tuhan.


HUBUNGAN DENGAN TUHAN

Hubungan dengan Tuhan dilakukan melalui pendengaran akan FirmanNya maupun berkomunikasi denganNya melalui doa dan saat teduh secara rutin setiap hari.

HUBUNGAN DENGAN ORANG KRISTEN LAINNYA

Hubungan dengan orang Kristen lainnya dilakukan melalui community cell/core (community of revival). Core bukanlah merupakan suatu program, melainkan sarana penggembalaan yang efektif yang dilakukan oleh gereja. Di dalamnya kita dapat belajar bersatu hati, tumbuh bersama (dalam iman, pengetahuan Firman, pengalaman dengan Tuhan, dan melayaniNya), serta memenangkan jiwa (multiplikasi dan merawat jiwa). Setiap orang percaya perlu tergabung dalam komunitas ini, sebab kita butuh orang lain untuk bertumbuh (Ibrani 10:24-26) dan Allah lebih sering menyatakan kuasaNya dalam persekutuan. Ada 4 hal penting di dalam komunitas yang perlu kita pahami agar bertumbuh, saling kenal dan memiliki rasa nyaman, ada kepedulian antar member, memiliki motivasi yang benar untuk mengejar pertumbuhan rohani, dan punya tanggung jawab bersama (saling berbagi dan tidak mengandalkan satu orang saja).

HUBUNGAN DENGAN GEREJA LOKAL

Gereja merupakan komunitas Allah yang apostolik, artinya kita akan diutus keluar oleh Allah untuk mencapai suatu misi (Yohanes 20:21). Komunitas berarti sekelompok orang, bukan individu, bukan bangunan fisik. Diutus keluar artinya dipisahkan melalui pertobatan dan iman dalam Yesus;memiliki kepercayaan yang sama (1 Petrus 2:9-10). Jadi sebagai orang Kristen, kita harus berhubungan dengan satu gereja lokal, agar bersama-sama dengan orang Kristen lain, mengalami pertobatan dan mengalami pengenalan mendalam dengan Pribadi Yesus untuk menjalankan misiNya, yaitu multiplikasi jiwa dan merawat agar setiap jiwa mencapai kedewasaan penuh.

HUBUNGAN DENGAN KELUARGA DAN TEMAN

Allah menempatkan kita di dalam keluarga dan teman-teman kita agar kita bisa menjadi berkat dan memperkenalkan Pribadi Yesus serta kabar keselamatan kepada mereka. Setiap orang yang telah lahir baru, harus bisa menjadi orang tua rohani, yang membawa orang-orang yang belum percaya Kristus kepada pengenalan akan Dia, menerima keselamatan, mendoakan, membagikan Firman, serta menolong mereka untuk bertumbuh di dalam 4 hubungan baru ini, sehingga pada suatu saat nanti, merekapun akan menjadi orang tua rohani (Matius 5:14-16).

Manakah dari keempat hubungan baru ini yang menyulitkan anda? Saat ini berdoalah kepadaNya, minta Tuhan membantu agar kita dapat bertumbuh maksimal dalam keempat hubungan baru ini dan bukalah hati, agar kita bisa berkomitmen secara pribadi untuk mau membangun hubungan-hubungan baru ini dengan lebih baik. Iblis selalu berusaha merusak hubungan-hubungan ini, sebab ia tidak menyukai kesatuan hati yang mengandung kuasa agar kita mengalami janji Tuhan. Jadi waspadalah, apabila ada keretakan dalam salah satu hubungan-hubungan ini, minta Tuhan pulihkan dan usahakanlah untuk segera diperbaiki, agar kita tetap dapat hidup secara penuh dalam kasih karunia dan janji-janjiNya.

Tuhan Yesus memberkati!

30 April 2013

Komitmen dan Kesepakatan

Saat ini banyak orang yang hidupnya tidak mau terikat, suka hidup bebas, suka memuaskan diri, sehingga sangat sulit untuk berkomitmen. Komitmen merupakan suatu janji kepada diri sendiri/orang lain/Tuhan yang dicerminkan dalam tindakan kita.

Dengan komitmen, kita akan dapat bekerja dan tetap maju ketika banyak masalah dan tantangan terjadi, bahkan kita akan jadi lebih kreatif untuk mencari solusi terhadap berbagai masalah.

Dengan komitmen, ada suatu kesepakatan antara kita dengan orang lain, antara pikiran dan tindakan kita, sehingga akan menghasilkan perubahan, bahkan mendatangkan perkenanan dari Tuhan (Matius 18:19-20).

Sebagai contoh, sebuah team sepakbola, jika tidak menyatukan tujuan di antara 11 orang anggotanya, maka tidak akan menghasilkan gol. Kelompok paduan suara/orkestra, tidak akan menghasilkan penampilan yang sempurna jika tidak kompak dan berkomitmen satu dengan yang lain. Sama halnya di dalam gereja, penjangkauan dan pendewasaan jiwa-jiwa tidak akan terjadi, jika masing-masing jemaatnya tidak berkomitmen untuk visi tersebut.


Ada 4 komitmen mendasar yang perlu kita lakukan,

KOMITMEN KEPADA TUHAN DAN PELAYANAN

Yohanes 3:16 merupakan komitmen Tuhan untuk menyelamatkan kita karena kasihNya yang begitu besar terhadap kita. Oleh karena itu, setelah diselamatkan, kita juga harus berani berkomitmen penuh kepadaNya, menjalankan perintahNya serta melayaniNya. Paulus di dalam Filipi 3:8 menyatakan bahwa pengenalan akan Kristus sangatlah mulia, sehingga ia melepaskan semuanya dan menganggapnya sebagai sampah. Hal ini ditulisnya ketika ia sudah melayani dan bahkan menerima aniaya, namun oleh karena komitmennya, ia tetap melayani dengan setia dan bahkan melepaskan semua hal kecuali Kristus. Ketika gereja mengecewakan anda, ketika komunitas mengecewakan anda, ketika Tuhan belum memenuhi janjiNya dalam kehidupan anda, apakah anda masih berkomitmen terhadap Tuhan? Masihkah anda melayaniNya?.

KOMITMEN KEPADA KELUARGA
Di dalam kehidupan keluarga, kita harus bisa menerima kekurangan masing-masing, kekurangan pasangan kita, orang tua kita, anak-anak kita, sehingga kita bisa tetap menjalankan peranan kita di dalam keluarga dan tetap mensupport satu dengan yang lain meskipun kondisi keluarga sedang dilanda masalah. Dengan komitmen tiap anggota keluarga, setiap permasalahan di dalam keluarga, akan dapat diselesaikan lebih cepat dan tidak menimbulkan problem yang lebih besar.

KOMITMEN UNTUK MENGASIHI
Seperti halnya Tuhan menerima kita apa adanya, tanpa mengingat masa lalu dan dosa-dosa kita, kitapun harus belajar untuk mengasihi orang lain tanpa syarat. Pernah dikecewakan, pernah disakiti, berbeda ras, berbeda agama, berbeda status sosial, tidak membuat kita berhenti mengasihi orang lain. Kasih karunia Tuhan masih ada untuk hari ini dan hari esok, Dia akan memampukan kita untuk mengasihi orang lain meski kita tidak sanggup/tidak ingin, asalkan kita mau berkomitmen untuk mengasihi.

KOMITMEN KEPADA PEKERJAAN
Lakukanlah segala sesuatu seperti untuk Tuhan. Seberat apapun, sesedikit apapun upah yang kita terima untuk suatu pekerjaan, apabila kita telah menerimanya, selesaikanlah dengan baik. Setia kepada perkara kecil, akan membuahkan kepada kepercayaan kepada perkara besar.

Saat ini, apakah yang menjadi penghalang bagi anda untuk berkomitmen? Berdoa dan mintalah kepada Tuhan, agar Ia membantu kita untuk menjaga komitmen kita, sebab tanpa komitmen, tidak ada suatu pekerjaan apapun yang akan membuahkan hasil.

Tuhan Yesus memberkati!

29 April 2013

Iman dan Kedaulatan Allah

Iman secara sederhana dipahami oleh sebagian besar orang adalah percaya, berharap, lalu menerima mujizat. Namun dalam kenyataannya tidaklah selalu demikian. Di Ibrani 11:39 dapat kita lihat, ternyata ada orang yang beriman sungguh-sungguh serta punya kesaksian hidup yang baik, tetapi tidak memperoleh apa yang mereka imani.


Iman tidak hanya berbicara tentang pengalaman mujizat dari Allah, namun juga kerelaan untuk menerima kedaulatan Allah bagi kita. Mungkin kita mengimani untuk memiliki pasangan hidup yang kita idamkan, ternyata Tuhan belum menghendaki, atau kita mengimani rencana bisnis besar, namun seolah digagalkan Tuhan. Ketika iman kita bertemu kehendak Allah yang berbeda, bisakah kita tetap berserah dan percaya kepadaNya?

Iman tidak berbicara hanya tentang hidup saat ini, tapi lebih jauh lagi, yaitu tentang hidup kekal. Iman harus memandang jauh ke depan, kepada hal-hal jauh di depan kenyataan hidup kita saat ini. Ketika kita fokus terhadap hal-hal kekekalan, bukan realita saat ini, kita akan dapat bersukacita ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita imani di dunia ini. Kita dapat berkata, "Jadilah kehendakMu Tuhan, karena saya percaya kehendakMulah yang terbaik. Kita akan menjadi orang dewasa dalam Tuhan, ketika iman kita dapat menerima kedaulatan Allah.

Tuhan Yesus memberkati!

28 April 2013

Iman di dalam Kesaksian Hidup Tokoh-Tokoh Alkitab



Habel - Iman adalah mempersembahkan korban yang lebih baik kepada Allah (Ibrani 11:4)
Seperti halnya Habel yang mempersembahkan korban terbaik untuk menyenangkan Tuhan, kitapun juga bisa menyenangkan Tuhan melalui persembahan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepadaNya. Itulah ibadah sejati kita kepada Allah, oleh sebab itu iman berarti menghidupi FirmanNya, menjaga kekudusan kita, sehingga kita memberikan persembahan yang terbaik untukNya.

Henokh - Iman adalah bergaul karib dengan Allah (Ibrani 11:5-6)
Henokh adalah contoh kehidupan yang sungguh-sungguh mencari Tuhan setiap hari. Tuhan rindu kita bergaul intim denganNya, jadi jika kita sungguh beriman kepadaNya, seharusnya kita mencari Dia dengan kesungguhan, tidak hanya pada saat menghadapi masalah, tetapi setiap saat.

Nuh - Iman adalah ketaatan mutlak kepada Allah (Ibrani 11:7)
Ketika Nuh diminta Allah untuk membuat bahtera, kondisi pada saat itu belum terlihat adanya tanda-tanda air bah, sehingga banyak orang mencemooh dirinya. Namun Nuh tetap taat kepada Allah karena ia beriman/percaya kepadaNya. Apapun perintah Tuhan, sesulit apapun, kerjakanlah dengan taat. Mungkin kita tidak paham dengan perintahNya, namun percayalah itu akan mendatangkan kebaikan bagi kita.

Musa - Iman adalah menolak kesenangan dari dosa (Ibrani 11:24-25)
Musa yang telah diangkat menjadi anak putri Firaun, menolak semua kekayaan, kemewahan, kesenangan dari dosa, dan lebih suka menderita sengsara sebagai umat Allah bersama bangsanya. Iman yang benar membuat kita setiap hari menolak godaan-godaan dosa dan kesenangan dunia ini. Iman sejati mendorong kita mengejar kekudusan dalam hidup.

Tuhan Yesus memberkati!

27 April 2013

Jika Dunia Berkata

Jika dunia berkata balas kejahatan, Tuhan berkata ampuni dan berkati.

Jika dunia berkata semua sudah berakhir, Tuhan berkata masih ada harapan.

Jika dunia berkata cuek, Tuhan berkata perhatikan dengan kasih.

Jika dunia berkata larilah dari masalah, Tuhan berkata hadapilah masalah karena tidak ada masalah yang melebihi kekuatan kita.

Jika dunia berkata segala sesuatu tidak adil, Tuhan berkata bersyukurlah selalu.

Jika dunia berkata kita tidak berarti, Tuhan berkata kita adalah anak-anakNya.

Jika dunia berkata percayailah dirimu sendiri, Tuhan berkata rendah hati dan percayakan semuanya kepadaNya.

Jika dunia berkata kutuk, Tuhan berkata berkat.

Jika dunia berkata gosip, Tuhan berkata mengenai ajaran dan didikan untuk membangun.

Jika dunia berkata untuk berharap pada manusia, Tuhan berkata untuk berharap padaNya.

Jika dunia berkata tidak ada lagi kasih, Tuhan berkata kasih karuniaKu cukup.

Jika dunia berkata jangan percayai siapapun selain diri sendiri, Tuhan berkata percaya kepadaNya, sebab Ia setia.

Jika dunia berkata sudah tidak ada jalan, semuanya terlambat, Tuhan berkata, Dia akan buka jalan dan pertolonganNya tidak pernah terlambat.

Jika dunia berkata, fokuslah pada masalah untuk memecahkannya, Tuhan berkata, fokuslah pada Dia, maka Dia yang akan membereskannya.

Jika dunia berkata, percayailah kenyataan yang ada, Tuhan berkata, percayailah janjiNya dengan kacamata iman.

Jika dunia berkata fokuskan dirimu pada uang agar bahagia, Tuhan berkata carilah dahulu Kerajaan Allah, maka semuanya akan ditambahkan dalam hidup kita.

Saat ini, perkataan dunia atau perkataan Tuhan yang kita hidupi?
Ingatlah bahwa kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu apa yang dikaruniakan Allah kepada kita (1 Kor. 2:12).  


Jangan mau dibodohi lagi dengan perkataan dunia. Tetapi ketahuilah yang telah dikaruniakan/diajarkan olehNya kepada kita, melalui pendengaran lewat Roh Allah yang berbicara kepada kita, sebab hanya dengan perkataanNya sajalah, hidup kita akan berubah, bahkan menerobos dan mengalami kemenangan sejati.

Tuhan Yesus memberkati!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...