23 Agustus 2012

Persembahan yang Hidup

Roma 12:1 - Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.


Tuhan mau kita mempersembahkan diri kita sebagai persembahan (korban) yang hidup. Maksudnya gimana sih?

Nah, tantangan terbesar dari korban persembahan yang hidup adalah korban tersebut bisa saja lari dari mezbahnya, tempat dia dipersembahkan. "Suka-suka gue donk", kata si korban.. :p Beda ceritanya kalau misalkan korban yang dipersembahkan adalah korban mati, korban mati tidak bisa kemana-mana karena dia sudah mati. Oleh karena itu, untuk menjadi persembahan yang hidup dibutuhkan komitmen untuk tetap bersedia berada di mezbah persembahan.

Nah, di ayat tersebut disebutkan juga kata "tubuhmu". Tubuh berbicara tentang kedagingan. Jadi yang Tuhan inginkan dari kita adalah, kita secara sadar, sukarela, tanpa paksaan dan pengaruh dari orang lain, mempersembahkan tubuh kita untuk dipakai sebagai alat kemuliaan-Nya.

ada 3 kondisi yang dinasihatkan Rasul Paulus mengenai persembahan ini:

  • Hidup
  • Hidup artinya kita sadar, dan secara sengaja memberikan diri kita untuk Dia pakai. Dengan kata lain, mempersembahkan diri itu adalah sebuah keputusan yang kita buat. Tentunya harus disertai juga dengan komitmen untuk tetap setia bersedia menjadi alat kemuliaan-Nya.

    Hidup juga mengantung arti sesuatu yang dinamis. Tuhan tidak mau kita terjebak dalam rutinitas rohani dan tradisi-tradisi religius.. Tapi Tuhan mau bahwa kehidupan rohani kita adalah kehidupan yang dipimpin oleh Roh.

  • Kudus
  • Kudus artinya tidak tercemar. Untuk bisa menjadi persembahan yang berkenan, kita harus menjaga kekudusan. Mengapa kekudusan ini penting, karena Allah yang kita sembah adalah kudus. Kalau kita tidak kudus, kita tidak dapat tahan dalam hadirat-Nya, sehingga kita akan tersesat karena tidak dapat mendengar petunjuk-Nya. Ibaratnya kalau sinyal hp, kita sedang dalam blank spot karena ketidakkudusan kita menghalangi komunikasi kita dengan Dia.

  • Berkenan kepada Allah
  • Ingatlah bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang melihat hati. Dia sangat sangaaatttt peka terhadap setiap motivasi dalam hati kita, sekecil apapun itu. Pastikan bahwa ketika kita mempersembahkan diri kita untuk Dia pakai sebagai alat kemuliaan-Nya itu benar-benar timbul dari hati yang memiliki motivasi untuk memuliakan Dia, bukan untuk keuntungan kita. Dengan begitu, ibadah kita akan berkenan di hadapan-Nya.
Tuhan Yesus memberkati!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...